Tradisi Maayun Anak Digelar 28 Februari

    Tradisi Maayun Anak Digelar 28 Februari

    SAMPIT – Jika tidak ada aral, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur akan menggelar tradisi maayun anak atau manuyang anak pada 28 Februari 2014. Saat ini persiapan terus dilakukan agar event wisata tahunan ini berlangsung meriah.

    Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotim, Yahya menargetkan kegiatan ini diikuti minimal 100 peserta. Dia yakin animo masyarakat untuk mengikuti tradisi bernuansa Islami ini akan tetap tinggi.

    Kegiatan tahunan ini bisa diikuti siapa saja, khusunya warga Kabupaten Kotawaringin Timur. Warga yang berminat bisa mendaftar ke kantor Disbudpar Kotim untuk mengikutsertakan anak mereka pada tradisi maayun anak dengan syarat usia anak antara 1 hingga 8 bulan.

    “Kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Jadi Insya Allah nanti pada tanggal 28 Februari akan kita laksanakan di Gedung Serbaguna Sampit,” ujarnya, Sabtu (14/2).
    Maayun anak merupakan tradisi masyarakat Kotim yang patut dilestarikan di tengah perkembangan zaman yang sangat pesat. Tradisi tersebut saat ini juga sudah masuk sebagai salah satu paket wisata budaya.

    Kegiatan ini secara terus menerus, diharapkan mampu menarik wisatawan di tengah gencarnya pemerintah setempat mempromosikan sektor pariwisata. Apalagi, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur bertekad menjadikan Sampit sebagai kota tujuan wisata.

    Tradisi maayun anak merupakan agenda rutin pemerintah daerah dalam rangka melestarikan budaya. Tradisi maayun anak, juga terus dilaksanakan secara turun temurun oleh kaum ibu sejak zaman dahulu, terutama pada masyarakat Suku Banjar. Prosesi maayunan anak sendiri, yaitu dengan membuat ayunan dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung-ujungnya diikat tali.

    Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun, kacang parang, katupat guntur, ketan kuning sebagai perlambang penangkal roh jahat atau penyakit yang mengganggu bayi. Kemudian, maayun anak juga ada yang mangayun biasa dan ada yang sambil badundang. Maayun biasa adalah mengayun dengan berayun lepas sedang meayun badundang adalah mengayun dengan memegang tali ayunan.

    Sambil maayun anak, orangtua biasanya membaca salawat atau ayat suci al qur’an dan mendoakan anak yang sedang diayun agar menjadi orang sukses, berbakti, bertakwa dan menjadi kebanggaan semua orang. (raf/140215/beritasampit.com)