OM, TELOLET OM, DAN KEHENINGAN SANG WAKTU MENYAMBUT TAHUN BARU

    Oleh: Dr. H.Joni,SH.MH.***

    Fenomena Om, Telolet, om, menandai momentum tahun baru 2017 kali ini bisa dicermati dari berbagai perspektif. Sekurangnya dari dua momentum. Pertama dari perspektif sosiologis. Kedua dari perspektif perjalanan sang waktu. Bukan bersifat materialistis, fenomena ini yang menarik untuk dicermati sebagai momentum pergantian sang waktu dari tahun 2016 ke tahun 2017.

    Perspektif Sosiologis Dari perspektif sosiologis, fenomena Om, Telolet, Om, menjadi cirikhas pertama. Pada pemahaman awam, fenomema ini ramainya seolah muncul tiba tiba. Tak ada angin tak ada hujan, tiba tiba beberapa orang yang tergabung dalam kelompok yang tidak jelas identitasnya berdiri di jalan raya. Mereka mengacungkan tulisan agar kepada pengemudi, khususnya pengemudi bus membunyikan klaksonnya.

    Ketika berbunyi telolet nyaring, mereka berjingkrak senang. Fenomena itu terjadi tak hanya di kota di Jawa. Tetapi menjalar di seantero Indonesia. Bahkan mendunia. Gejala apa ini? Dalam perspektif sosilogis, fenomena ini sudah mulai semenjak enam tahun yang lalu, dan tidak terlepas dengan kecanggihan media sosial.

    Saat itu, di Jawa Tengah khususnya di kota Kudus dan sekitarnya para remaja iseng memburu bunyi klakson dengan alasan klise, untuk kepuasan batin. Para remaja itu berteriak dan kegirangan ketika permintaan mereka dikabulkan oleh para sopir bus yang mereka cegat. Perkembangan berikutnya, tidak hanya paa remaja. Orang dewasa pun ikut ikutan berburu bunyi klakson yang direkam dalam tulisan bunyi tolelot.

    Tanpa komando terstruktur, fenome Om, Tolelot, Om ini melingtas ruang dan waktu, dalam media sosial menjadi viral. Karena kreativitas para remaja itu, dengan tampilan tulisan di karton bertuliskan “Om Telolet Om” untuk mendengarkan suara klakson Bus, menjalar melintas ruang dan waktu.

    Mendunia. Aktivitas itu masuk dalam media sosial, mereka merekam aksi “tidak jelas” itu dengan sudut dan angle yang mereka berikan inovasi sehingga hasilnya lebih menarik. Satu dan lain hal aktivitas itu dipandang konstruktif dan tidak mengandung unsur negatif. Itulah pula, yang kemudian menarik beberapa artis papan atas mempopulerkannya.

    Fenomena Om Telolet Om di Indonesia dipopulerkan oleh beberapa artis IG ambil saja Ria Ricis yang ditantang oleh para fansnya untuk melakukan #OmteloletOM Challenge#. Kemudian ikut juga para ask fm, para vlogger juga ikut meramaikan #OmteloletOm challenge# ini. “Gila”nya, perkembangan ini tidak hanya di Indonesia.

    Fenomena Om Telolet Om mewabah hingga ke seluruh dunia. Tidak saja di Asia, bahkan merambah Eropa, Inggris, Prancis, Amerika (USA), Kanada, Australia, dan Negara lain yang lebih luas. Bahkan artis artis dunia setingkat Justin Bieber, Ariana Grande, Dj Marshmellow, Kiko Mizuhara dari jepang, Jennifer Lopez dan banyak lagi ikut ber-Om Telolet Om ini. Lebih “parah” lagi, atlit olahraga Olimpiade dan Sepak Bola dunia seperti Ronaldo, Kaka, Messi bahkan sempat menyinggung “Om telolet Om” di twitter mereka.

    Tokoh politik internasional selevel Barrack Obama, presiden Amerika Serikat dan juga presiden Amerika Terpilih Donald Trumph, dan lawannya Hillarry Clinton tidak ketinggalan. Mereeka juga sempat menyinggung tentang Om Telolet Om di twitter mereka. Sebuah fenomena social yang mkenarik para sosiolog untuk memberikan komentar dan analisis tentang fenomena ini. Perspektif Sang Waktu Dalam perspektif sang waktu, tahun baru secara umum senantiasa memberikan ruang kepada orang untuk berpikir universal dan obyektif tentang sang waktu.

    Pertanyaan abstrak dan filosofis tentang sang waktu ini dapat diajukan, sebagai cuwilan kalimat penuh makna dari pujangga, bahwa sang waktu dengan hukumnya sediri mengalir bak air yang datang dan pergi tiada henti dan sulit dimengerti. Demikian juga terbit matahari yang tak pernah jeda dan lelah. Perpindahan siang dan malam yang terus bergulir. Bertaut dalam ruang yang maya, dari detik, menit, jam, hari, minggu, windu. Bahkan abad dan millennium terus mengisi dimensi ruang yang abstrak. Waktu terus berjalan dan terus berputar dan beredar hingga akhir keabadian.

    Namun tak banyak orang yang menyadari keadaan sang waktu. Ia lewat dan dilewatkan begitu saja tanpa karya bermakna dalam hidupnya. Pandangan kebanyakan orang, bahwa tidak relevan dan tidak kontekstual untuk dijadikan sebagai dasar kontemplasi.

    Namun apapun, pastinya sang waktu berlalu begitu saja bak angin berhembus. Tidak termasuk, dan cenderung mengenang sang waktu inilah yang dilakukan orang orang yang mengatur waktunya dengan penuh seksama di atas penyadaran bahwa hidup hanya sesaat. Hidup bagaikan singgah mampir minum dan harus meneruskan perjalanan bersama dan dalam rengkuhan sang waktu. Itulah sebabnya hidup harus dimanfaatkan untuk sesama di atas penyadaran bahwa hidup bukan hanya saat ini, dan tidak hanya untuk diri sendiri.

    Kata para winasis, cara mengukur waktu dalam kehidupan ini ternyata berbeda, dari millennium, sampai kepada mili detik. Semuanya tentang keberhargaan sang waktu. Untuk memahami kakna millennium, atau ribuan tahun tanyalah kepada sejarah perjalanan sang waktu.

    Untuk memahami waktu satu tahun yang menyakitkan, bertanyalah kepada siswa yang gagal tidak naik kelas dan harus mengulkang dan menunggu tahun berikutnya. Untuk memahami makna satu bulan, tanyalah pada ibu yang melahirkan bayi prematur.

    Demikkian selanjutnya, untuk memahami makna satu minggu, tanyalah pada editor majalah mingguan yang senantiasa dikejar oleh deadline. Untuk memahami makna satu hari, tanyalah pada pekerja dengan gaji harian yang senantiasa menunggu tibanya sore untuk menerima gajinya.

    Untuk memahami makna satu jam, tanyalah maknanya kepoda gadis yang sedang menunggu kekasihnya di ujung waktu yang mepet. Untuk memahami makna waktu satu menittanyalah kepada seseorang yang ketinggalan kereta atau pesawat karena terdesaknya urusan yang harus diselesaikan.

    Untuk Untuk memahami makna waktu satu detik, tanyakan maknanya kepada seseorang yang selamat dari kecelakaan dan mengapresiasinya dengan penuh syukur. Untuk Untuk memahami makna satu mili detik, tanhyakan maknanya kepada pelari peraih medali perak Olimpiade. Hanya karena milidetik ia tak memperoleh medali emas atau perak. Kesemuanya seolah mengandung duka lara.

    Namun apapun, waktu terus berlalu dan tak akan akan pernah mengulang peristiwa. Semuanya terjadi kendatipun dengan tema yang kemungkinan nyaris sama. Hanya teknisnya berbeda. Temanya sama, yaitu tentang kekalahan, yang dibingkai oleh waktu. Bahwa berdasarkan satuan waktu, ilmu pengetahuan saat ini belum dapat menjelaskan dan merefleksikan dalam dunia nyata.

    Peristiwa wapun saat ini tidak dapat terlepas dari ruang dan waktu. Justru dalam keterbatasan inilah, harusnya setiap insan menyadari betapa hidupnmya semkakin berkurang digulung oleh sang waktu. Oleh karena itu harusnya setiap saat, harus mengisi hidupnmya dengan karya penuh makna.

    Tidak saja buat diri sendiri tetapi juga buat sesama. Disadari bahwa kehidupan ini senantiasa berjalan dalam runutan dan konteks sang waktu. Pada perspektif ini, penyadaran harus senantiasa terjaga bahwa kita hidup, berada pada kisaran waktu saat ini.

    Menyambut tahun baru 2017 hendaknya dengan senantiasa menyemai harapan. Harapan untuk berkarya lebih baik di tahun 2017 ini. Mengamini hadis Rasul Muhammad SAW, yang intinya bahwa siapa yang hidupnya hari ini sama dengan kemaren maka ia merugi. Siapa yang karyanya hari ini lebih sedikit dan lebih tidak bermakna dari hari kemaren maka ia golongan orang yang bangkrut (terlaknat). (**Notaris, Doktor Kehutanan Unmul Samarinda, Pengamat Sosial Tinggal di Sampit)