Kampus Terbesar Di Kalteng Ini Rupanya Belum Juga Berbenah, Mahasiswa UPR Ancam Demo Rektorat

    PALANGKA RAYA – Peningkatan mutu di kampus Universitas Palangka Raya (UPR) tampaknya belum menunjukan perbaikan dari tahun ke tahun, meski berganti pimpinan praktik dari sistem yang dibangun selama ini masih menjadi keluhan terutama mahasiswanya.

    Sekarang, rasa ketidakpuasan mahasiswa atas sistem yang ada kembali menyeruak menuntut perbaikan. Menindaklanjuti surat terbuka yang dikeluarkan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Palangka Raya beberapa hari sebelumnya hingga Presiden dan wakil Presiden Mahasiswa BEM Universitas Palangka Raya mendapatkan surat peringatan (SP) dari pihak Rektorat.

    Kini, mahasiswa Universitas Palangka Raya mulai mengambil sikap dan  siap menggelar pengadilan jalanan dan demo Rektorat, yang digelar,  Jumat 24/03 untuk menuntut hak dan keadilan.

    Seperti yang dijelaskan Gubernur BEM FISIP Universitas Palangka Raya Muhammad Ambrullah yang juga merupakan Korlap aksi mengatakan kepada beritasampit kamis (23/03) bahwa benar mahasiswa Universitas Palangka Raya akan melakukan aksi didepan Rektorat UPR besok.

    “Untuk aksi besok atas nama mahasiswa Universitas Palangka Raya, dari berbagai Fakultas yang dikoordinir langsung melalui BEM Fakultas masing-masing.  Seperti BEM Universitas Palangka Raya,  BEM FISIP, BEM Faperta, BEM Fakultas Ekonomi, BEM Fakultas Hukum, Senat Mahasiswa Fakultas Teknik. Dan BEM FKIP UPR saja yang belum ada konfirmasi, serta Hima-hima kabupaten juga akan ikut bergabung dalam aksi besok.”tegas Ambrullah.

    Kami sangat menyayangkan kalau sebelumnya Ali Assegaf dan Krismes Santo H. Presma dan Wapresma BEM UPR sampai mendapatkan SP dari pihak kampus akibat surat terbuka yang nyatanya benar-benar menjadi keluhan mahasiswa UPR selama ini, tanpa memberikan jawaban terlebih dahulu atas surat terbuka tersebut. 

    Maka dari itu ini tanggung jawab bersama sebagai mahasiswa UPR untuk menyampaikan keluhan, menuntut keadilan, menyuarakan keterpurukan Uang Kuliah Tunggal (UKT), bukan untuk memaksa tapi untuk menghidupkan nurani pihak kampus. 

    “Saatnya kita membuktikan. Siapa mahasiswa dan siapa pengecut. Karna sejatinya mahasiswa tidak ada yang pengecut” tutup ambrullah.

    (dsz/beritasampit.co.id)

    Follow Berita Sampit di Google News