​Warga Mengeluh Air tak Mengalir, Direktur PDAM Minta Maaf

    SAMPIT – Masyarakat Kotawaringin Timur (Kotim) khususnya masyarakat Kota Sampit mengeluhkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Dharma Tirta Sampit, karena air tidak mengalir dalam lima hari terkahir.

    “Sudah empat hari terakhir air tidak jalan. Mau mandi gak bisa, cuci piring, memasak, semuanya terhambat,” kata Sera salah seorang warga yang merasakan dampak tidak jalannya air PDAM, Rabu (10/5/2017).

    Tidak hanya itu saja, kerap kali aliran air bersih tidak mengalir dikediamannya. Lanjutnya, apabila mulai mengalir, air dari PDAM tersebut akan membawakan kotoran atau keruh seperti lumut, dan tanah.

    Situasi seperti itu memang sering dirasakan masyarakat Kotim. Dirinya berharap, agar pemerintah dapat segera mengatasi permasalahan yang merugikan warga tersebut.

    “Mohon pihak terkait agar segera membenahi permasalahan air ini, jangan sampai terus-terusan terjadi agar tidak menghambat aktivitas para warga yang mengunakan jasa dari PDAM itu sendiri,”tegasnya

    Jon (27) warga Ketapang jalan jeruk tiga juga menambahkan kalau hal seperti ini terus terjadi tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan pro dan kontra antara masayarakat pengguna jasa serta PDAM selaku penyedia jasa.

    “Yang pastinya hal seperti ini akan menjadi masalah baru di Kota Sampit. Karena air ini adalah salah satu keperluan di semua tempat seperti, warung makan, hotel, dan lebih-lebih lagi dapat menimbulkan pemikiran masyarakat bahwa pemerintah kurang peduli terhadap mereka. Seharusnya jika ada permasalah seperti ini pemerintah maupun instansi terkait terlebih dahulu tahu, sebelum masyarakat yang komplain dan jika sudah tahu tolong disosialisasikan agar masyarakat tidak berfikiran macam-macam,” ungkap Jon.

    Terpisah, Direktur PDAM Dharma Tirta Sampit, Firdaus Herman membenarkan adanya keterlambatan penyaluran air bersih kerumah-rumah warga se- Kotawaringin Tumur (Kotim) lantaran beberapa hari sebelumnya Kota Sampit mengalami pemadaman listrik, hal tersebutlah yang menjadi kendala utama.

    “Satu jam saja listrik padam, maka harus menunggu satu hari agar air mengalir normal, dan bahkan ketika listrik kembali menyalapun belum tentu air bisa langsung mengalir. Petugas kami harus berkeliling dulu untuk membuka pembuangan angin yang berada didalam pipa penyalur air terlebih dahulu, jika tidak dibuka menyeluruh maka air tidak akan mengalir,” kata Firdaus Herman saat ditemui diruang kerjanya oleh wartawan beritasampit.co.id di ruang kerjanya (10/5/2017).

    Firdaus juga meminta maaf atas ketidak nyamanan tersebut. Selain terkendala oleh listrik, PDAM Dharma Tirta Sampit juga memiliki kendala anggaran untuk memaksimalkan pelayanan kepada para pengguna jasa dari PDAM, pasalnya instansi pelayanan air bersih tersebut memerlukan waktu yang tidak sedikit yaitu 4 tahun dengan biaya sebesar Rp 72 miliar utuk pengelolaan penyaluran air bersih.

    “Kami memerlukan Rp 72 miliar untuk jangka waktu selama empat tahun, dan untuk tahun ini kami hanya mendapatkan setengahnya yakni Rp 32 miliar, hal tersebut tidak sebanding dengan tuntutan dari masyarakat pada saat ini yang terbilang cukup besar. Salah satunya penindak lanjutan terhadap daftar tunggu pemasangan air PDAM serta fasilitas pengelolaan air bersih,” tegasnya.

    Sebelumnya kerusakan pipa atau Elvo penyambung aliran air PDAM di Jalan Muchran Ali Sampit jebol akibat termakan usia yang mana sampai saat ini belum ada peremajaan untuk bahan materialnya tersebut. Hal ini kemungkinan besar juga menjadi akibat tidak mengalirnya air PDAM Sampit, sehingga membuat pelanggan mengeluhkan layanan tersebut.

    (im/beritasampit.co.id)