​Nelayan Pesisir Enggan Melaut, Kenapa? 

    KUALA PEMBUANG – Sejumlah nelayan di pesisir Kabupaten Seruyan kini enggan melaut akibat cuaca laut yang tidak menentu. “Oleh karena itu, kami jadi enggan melaut,” kata syamsul (47), salah satu nelayan Desa Sungai Bakau, Kecamatan Seruyan Hilir Timur kepada beritasampit.co.id Kamis (13/7/2017).

    Ia menjelaskan, cuaca laut yang tidak menentu ini karena sedang masa peralihan musim angin timur ke musim angin tenggara. Cuaca tidak dapat diprediksi, terkadang hujan dan terkadang tidak.

    Setidaknya, kondisi seperti ini akan berlangsung hingga beberapa minggu bahkan sampai satu bulan. Selama itu pula para nelayan akan kehilangan sumber pendapatan dan mata pencaharian utamanya.

    Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, nelayan di Desa Sungai Bakau biasanya akan mencari udang di sekitaran pesisir pantai. Meskipun dalam sehari hasil mencari udang tidak sebanyak mencari ikan di laut.

    “Sehari paling tidak bisa dapat sampai 20 kilogram udang dan dijual ke pengepul sekitar Rp20-30 ribu per kilogram,” terangnya.
    Untuk mengisi waktu luang, nelayan biasanya memperbaiki perahu dan peralatan menangkap ikan seperti jaring atau jala.

    Tidak jarang juga ada nelayan yang hanya bersantai-santai dan berkumpul bersama nelayan lainnya. “Kalau nganggur palingan memperbaiki jaring dan perahu atau tidak ya santai-santai sepert ini aja,” terang Saban (32) yang berprofesi sebagai nelayan Desa Sungai Bakau.

    Sementara, data dari hasil prakiraan tinggi gelombang laut oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) edisi Kamis (13/7), menunjukan ketinggian gelombang laut di wilayah perairan selatan kalimantan dan wilayah perairan utara Pulau Jawa berkisar 0,5 sampai 1,25 meter dengan kecepatan angin dari arah timur dan tenggara sekitar 20 knot atau 37 kilometer per jam.

    (rdi/beritasampit.co.id)