Asyik…Desa Basirih Hulu Musim Buah Rambutan

    SAMPIT – Desa Basirih Hulu, Kecamatan? Mentaya Hilir Selatan (MHS), Kabupaten Kotarwaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai musim panen buah rambutan.

    Musim panen tahun ini mulai Januari hingga Pebruari 2018 mendatang. Informasi yang dihimpun beritasampit.co.id menyebutkan, jumlah lahan kebun rambutan yang terdata di desa Basirih Hulu, yang luas lahan sekitar 30 hektare.

    Atau jumlah pohonnya yang berbuah sekitar 60 ribu pohon. Belum termasuk jumlah kebun buah di desa tetangga lainnya, Jaya Karet dan Kelurahan Basirih Hilir yang panen bersamaan.

    Musim buah rambutan tahun ini panen dipohonnya, berbuah tak terlalu lebat. Dan yang berbuah hanya sekitar 50 persen saja. Sedang musim buah itupun tetap berlimpah karena jumlah pohonnya yang banyak.

    Kepala Desa (Kades), Basirih Hulu, Kustiannor mengatakan, bahwa diwilayahnya sedang panen buah rambutan. Selain buah nenas, juga buah durian.

    Menurutnya, kalau buah nenas tidak bermusim setiap tahun ada. Hanya buah rambutan dan durian yang bermusim. ” Tahun ini sedang musim buah rambutan dan musim buah durian, ” ujar Kustiannor kepada beritasampit.co.id, kamis (11/1/2018).

    Dikatakannya, musim panen buah yang melimpah saat ini buah rambutan dan buah nenas, karena jumlah pohon yang banyak jadi panen melimpah, meski yang berbuah tak selebat tahun lalu, ujarnya.

    Sementara, untuk harga yang dijual saat ini untuk harga partai Rp 6.000 perkilogram dan kalau harga yang dijual dipinggir sepanjang jalan HM Arsyad tepatnya dari desa Jaya Karet hingga kelurahan Basirih Hilir harga perkilo Rp 10 ribu, katanya.

    Lanjutnya, kalau musim durian tahun ini memang agak kurang, karena minimnya pengetahuan para petani buah terkait cara dan tekhnik untuk berbuah bisa lebat.

    Salah satunya, kurangnya pengetahuan petani untuk meningkatkan kebun buahnya memahami tehnik pemeliharaan supaya kebunnya bisa berbuah lebat, seperti pohon rambutan dan pohon duren milik warga.

    “Bagaimana bisa berbuah banyak dan melimpah, kalau para petaninya tak diberikan pembimbingan dan penyuluhan,” ujar Ikus yang akrab disapa.

    Disamping itu, masyarakat petani buah juga berharap untuk ada penyuluhan dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), MHS setempat.

    Karena para petani dibiarkan begitu saja dan tidak pernah diberikan bimbingan. Petani hanya bisa memelihara kebun saja, kalau tekhnis buahnya bisa lebat mereka minim pengetahuan.

    “Kami meminta dinas terkait untuk bisa membina petani lebih meningkatkan hasil panennya,” ujar Sekdes Basirih Hulu Nuryadi menambahkan.

    (mar/beritasampit.co.id)