Mempertahankan Tradisi dan Melestarikan Budaya, Masyarakat Kota Sampit Suguhkan Ini di Bulan 10 Muharram

    Editor: A. Uga Gara

    SAMPIT — Mempertahankan tradisi dan melestarikan budaya daerah. Itulah yang dilakukan sekelompok masyarakat kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Mereka ramai-ramai membuat Bubur Asyura, bubur khas daerah tersebut.

    Pembuatan Bubur Asyura dilakukan setiap satu tahun sekali, setiap memasuki 10 muharram. Pada 10 muharram ini biasanya disetiap sudut kota kita akan melihat sejumlah warga bahu membahu membuat Bubur Asyura.

    Bubur Asyura hampir sama dengan bubur seperti biasanya. Akan tetapi, rasa khas dengan aneka macam rempah-rempah menjadikan bubur tersebut berbeda. Selain itu, Bubur Asyura dubuat hanya sekali dalam setahun. Jadi tidak heran, setiap kali ada pembuatan Bubur Asyura selalu menjadi rebutan warga.

    “Setiap tahun kami membuat bubur ini, dan memang selalu bertepatan pada 10 Muharram. Biasanya kami mengolah sebanyak 20 sampai 25 kilogram beras, ditambah dengan berbagai jenis rempah-rempah. Ini juga merupakan bagian dari tradisi yang terus kami lestarikan,” kata Yunus salah satu warga yang ikut terlibat dalam proses pembuatan bubur asyura di Jalan Juanda, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kamsi (20/9/2018).

    Pada saat pembuatan bubur asyura ini, menurut Yunus, masyarakat kota Sampit biasanya akan datang dengan sendirinya tidak perlu diundang, karena mereka pasti sudah tahu pada 10 Muharram akan ada pembagian bubur asyura.

    “Setiap tahun pada pembuatan bubur asyura selalu menjadi rebutan warga, bahkan mereka rela mengantri demi mendapatkan nya,” tutur Yunus.

    (im/beritasampit.co.id).

    (Visited 8 times, 1 visits today)