Pemkab Barito Timur Gencarkan Penanaman Jagung untuk Swasembada Pangan

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Barito Timur Trikorianto didampingi Ketua Komisi II DPRD setempat Wahyudinnor panen perdana jagung komposit pakan ternak di lahan Balai Benih Hortikultura (BBH) di Desa Netampin, Kecamatan Dusun Tengah, Selasa (5/7/2022). ANTARA/HO-Distanhankep Bartim

TAMIANG LAYANG – Pemerintah Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, menggencarkan penanaman jagung untuk menopang target pemerintah dalam mencapai swasembada pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Terlebih pada tahun depan pembangunan pabrik pakan ternak akan dibangun,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Barito Timur Trikorianto di Tamiang Layang, Selasa 16 Agustus 2022.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Barito Timur melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan terus berupaya meningkatkan dan memperluas penanaman jagung sebagai komoditas primadona pada sektor pertanian sesudah padi.

Selain itu, tambah dia, sektor pertanian menjadi sangat penting dan menjadi penentu, karena menyangkut dengan pemenuhan kebutuhan pangan juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.

BACA JUGA:   Barito Timur Alokasikan Rp2,2 Miliar untuk Program Sawit Masyarakat

Perlu disadari, sektor pangan dari pertanian merupakan penopang ekonomi masyarakat yang bisa memberikan sumbangsih besar dalam kebangkitan ekonomi pasca pandemi COVID-19.

“Peningkatan produksi jagung dan meningkatkan luas tanam akan memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Barito Timur akan mengedukasi dan mengawal kendala serta kebutuhan petani dalam pengembangan jagung. Aneka jenis jagung yang bisa dikembangkan di antaranya jagung manis, jagung komposit, jagung ungu dan jenis lainnya.

Pada 2022, kolaborasi Pemerintah Kabupaten Barito Timur dan Pemprov Kalteng memprogramkan luas tanam untuk jagung komposit seluas 1.000 hektare. Dengan asumsi rata-rata per hektare bisa menghasilkan 12 ton untuk tongkol, maka lahan tersebut maksimal bisa menghasilkan hingga 12.000 ton.

BACA JUGA:   Pemkab Bartim Tindaklanjuti SE terkait Larangan Obat Sirop

Selain itu, dengan asumsi harga jual jagung tongkol kering mencapai Rp2.000 hingga Rp2.100/hektare, maka per ton antara Rp2 juta hingga Rp2,1 juta atau Rp24 juta hingga Rp25,2 juta/hektare.

Jika hasil panen dari luas tanam bisa dimaksimalkan maka diperkirakan dapat mencapai  antaraRp24 miliar hingga Rp25,2 miliar. Jika dikonversi, penghasilan bersih petani per hektare setelah biaya operasional Rp12 juta hingga Rp13 juta.

(ANTARA)

(Visited 38 times, 1 visits today)