SAMPIT – Memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah yang jatuh pada Jumat 27 Juni 2025, umat Islam di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diajak untuk memahami kembali makna hijrah sebagai esensi perubahan diri menuju kehidupan yang lebih baik.
Ketua Majelis Rasulullah SAW Kalimantan Tengah (Kalteng), Habib Ahmad Alhabsyi, mengingatkan bahwa hijrah bukan sekadar peristiwa sejarah perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, melainkan sebuah pelajaran penting tentang strategi hidup dalam menghadapi tantangan dan membangun peradaban.
“Hijrah bukan hanya perpindahan fisik, tapi perpindahan nilai dan semangat. Dari yang buruk ke arah yang lebih baik. Itulah yang perlu kita tanamkan saat memasuki tahun baru Islam,” ujar Habib Ahmad.
Ia menuturkan, perjuangan Nabi dalam berhijrah adalah proses yang panjang dan berat. Selama 13 tahun berdakwah di Mekkah, Nabi Muhammad SAW menghadapi tantangan luar biasa, penindasan dan tekanan dari kaum Quraisy. Dakwah yang awalnya dilakukan secara diam-diam, kemudian diperintahkan Allah untuk disampaikan secara terang-terangan, meskipun menghadapi risiko besar.
“Bahkan Nabi sempat diasingkan dan menghadapi berbagai ujian bertubi-tubi, termasuk kehilangan istri tercinta dan pamannya. Hingga akhirnya, beliau diperintahkan untuk hijrah dari Mekah ke Madinah demi menjaga kelangsungan dakwah karena adanya ancaman pembunuhan, dari situlah Islam berkembang pesat di Madinah,” jelasnya.
Habib Ahmad juga mengisahkan bagaimana Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan hijrah secara sembunyi-sembunyi bersama sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Mereka sempat bersembunyi di Gua Tsur selama tiga malam untuk menghindari kejaran kaum Quraisy. Sesampainya di Madinah, Nabi membangun Masjid Quba dan kemudian Masjid Nabawi sebagai pusat dakwah dan peradaban.
“Dari Madinah, Islam tumbuh menjadi kuat. Perintah-perintah Allah banyak turun di sana, termasuk zakat, puasa, dan haji. Bahkan akhirnya Nabi berhasil menaklukkan Mekkah pada tahun ke-10 Hijriah, dan umat berbondong-bondong masuk Islam. Ini bukti bahwa hijrah adalah strategi menuju kemenangan,” tegasnya.
Mengakhiri pesannya, Habib Ahmad menekankan bahwa momentum 1 Muharram sebaiknya disambut dengan niat yang tulus dan tekad memperbaiki diri. Meskipun tidak ada ibadah khusus di malam tahun baru hijriah, umat dianjurkan memperbanyak doa dan amalan baik.
“Hijrah adalah perjuangan. Nabi mengajarkan kepada kita bahwa perubahan butuh pengorbanan, tapi hasilnya adalah kemuliaan. Mari jadikan tahun baru Islam ini sebagai awal dari perubahan akhlak, sikap, dan hidup kita menuju kebaikan,” tutupnya. (nardi)












