Terjebak di Antara Dua Api: Nestapa dan Harapan WNI di Selat Hormuz

Ilustrasi Selat Hormuz. Ist

Oleh: Adista Pattisahusiwa

DI balik gemuruh jet tempur stealth koalisi dan kilatan rudal balistik yang membelah langit Teheran, ada sunyi yang mencekam di perairan Selat Hormuz. Jalur sempit yang memisahkan daratan Arab dan Iran itu kini bukan lagi sekadar urat nadi minyak dunia, melainkan kuburan bagi harapan para pencari nafkah.

Jumat dini hari, 6 Maret 2026, menjadi saksi bisu saat kapal tugboat Musaffah 2 kehilangan kendali. Sebuah ledakan hebat yang hingga kini belum terkonfirmasi apakah berasal dari ranjau laut yang hanyut atau rudal nyasar merobek lambung kapal.

Dalam hitungan menit, besi tua itu ditelan ombak Teluk Oman, membawa serta mimpi tiga pelaut asal Indonesia ke dasar laut yang paling gelap.

Dalam video yang beredar, Kapal Musaffa 2 disebut sempat terkena rudal. Tapi, tidak disebutkan kapal ini dirudal oleh siapa. Keterangan dalam video yang beredar menyebutkan kapal itu lalu terbakar.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyebut insiden kapal Musaffah 2 terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat di perairan antara Persatuan Emirat Arab (PEA) dan Oman. Kapal berbendera PEA itu dilaporkan mengalami ledakan sebelum akhirnya terbakar dan tenggelam.

Namun, Kemlu juga belum bisa memastikan apakah Kapal Musaffa 2 itu meledak akibat terkena rudal atau karena penyebab lain.

Garis Depan yang Tak Terlihat

Selat Hormuz kini resmi menjadi zona merah. Penutupan selat oleh militer Iran sebagai balasan atas Operasi Epic Fury telah mengubah rute pelayaran menjadi permainan judi nyawa. Bagi WNI yang bekerja di sektor maritim, mereka adalah “garis depan” yang sering terlupakan dalam diskursus geopolitik global.

Situasinya sangat sulit. Kita tidak hanya bicara soal ombak, tapi soal proyektil yang bisa datang kapan saja.

baca juga ...  ​Menteri P2MI Temui KSM Malaysia, Bahas Penguatan Sektor Formal dan Sistem Pelindungan Pekerja

Tragedi Musaffah 2 hanyalah satu fragmen dari krisis yang lebih besar. Saat ini, satu WNI penyintas sedang berjuang melawan trauma dan luka bakar di sebuah rumah sakit di Khasab, Oman. Sementara itu, tiga lainnya masih berstatus hilang.

Di tengah blokade maritim dan patroli udara yang masif, operasi SAR (Pencarian dan Penyelamatan) berubah menjadi misi bunuh diri jika tidak dilakukan dengan koordinasi militer yang ketat.

Diplomasi di Ujung Tanduk

Bagi Jakarta, insiden ini adalah alarm keras. Di saat pemerintah tengah sibuk menyiapkan repatriasi massal bagi ribuan WNI dari daratan Iran, muncul tantangan baru di laut. Dua kapal tanker Pertamina dikabarkan sempat terjepit di antara blokade, menambah beban diplomasi perlindungan warga negara yang sudah sangat berat.

Heni Hamidah dari Kemlu RI menyebut bahwa negara sedang mengupayakan safe corridor atau jalur aman. Namun, dalam perang terbuka yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, “jalur aman” seringkali hanyalah istilah di atas kertas.

Di tanah air, keluarga para korban kini hanya bisa menggenggam ponsel, menunggu kabar dari hotline darurat yang dibuka pemerintah. Kepergian mereka ke wilayah Teluk awalnya adalah demi memperbaiki ekonomi keluarga, namun eskalasi yang meletus pada 28 Februari lalu mengubah segalanya dalam sekejap.

Tragedi ini menjadi pengingat pahit bahwa setiap barel minyak yang harganya melonjak akibat perang, seringkali dibayar dengan keselamatan mereka yang bekerja di balik kemudi kapal logistik.

Kini, fokus tidak lagi hanya pada siapa yang menang dalam perang Iran-AS, melainkan seberapa cepat negara bisa memulangkan anak-anak bangsa dari zona maut tersebut sebelum Selat Hormuz benar-benar menjadi jalur tanpa harapan.

(****)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!