SAMPIT – Guyuran hujan di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sempat membantu mengurangi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, upaya penanganan belum sepenuhnya dihentikan.
Satgas Karhutla Kotim masih waspada melakukan patroli, pembasahan, dan pendinginan di sejumlah lokasi bekas kebakaran guna mengantisipasi munculnya titik api baru.
Koordinator Lapangan Satgas Penanganan Karhutla Kotim, Rihel mengatakan, hujan yang turun dalam beberapa waktu terakhir memang cukup membantu meningkatkan kelembapan lahan. Kondisi tersebut membuat potensi kebakaran mulai berkurang, terutama karena titik api berskala besar hampir tidak ditemukan.
Meski demikian, petugas tetap disiagakan untuk memastikan tidak ada bara api yang masih tersimpan di lokasi bekas kebakaran.
“Hujan yang turun cukup merata membantu menurunkan potensi kebakaran, tetapi petugas tetap melakukan penyiraman agar api tidak kembali membesar,” kata Rihel, Kamis 5 November 2026.
Ia menyebutkan, penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada api yang terlihat di permukaan. Petugas juga harus memastikan sumber panas di dalam tanah benar-benar padam, khususnya di kawasan gambut yang memiliki lapisan cukup tebal.
Sebab, api yang terlihat di permukaan bisa saja sudah padam, tetapi bara masih bertahan di bawah tanah. Kondisi ini biasanya diketahui dari munculnya asap di sekitar area yang sebelumnya terbakar.
Karena itu, setiap lokasi kebakaran harus dipastikan benar-benar aman sebelum penanganan dinyatakan selesai. Bahkan, kemunculan asap sekecil apa pun tetap menjadi perhatian petugas.
“Kalau masih ada asap, potensi kebakaran kembali cukup besar karena api bisa saja masih menyala di bawah permukaan tanah, terutama pada lahan gambut,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Satgas terus melakukan patroli dan pengecekan lapangan atau ground check pada sejumlah titik bekas kebakaran. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi api, asap, maupun sumber panas yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
Jika masih ditemukan indikasi panas atau kepulan asap, petugas akan kembali melakukan penyiraman dan pendinginan hingga kondisi lahan dinyatakan aman.
Rihel menegaskan, turunnya hujan bukan berarti kewaspadaan terhadap karhutla bisa diturunkan. Kesiapsiagaan tetap diperlukan, terutama jika curah hujan kembali berkurang dan kondisi lahan mulai mengering.
Selain patroli dan pemantauan titik panas, upaya pencegahan juga dilakukan melalui pembasahan kawasan rawan serta sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
“Setelah selesai melakukan pemadaman dan pendinginan, kami juga memberikan sosialisasi agar masyarakat tidak membakar lahan. Kami turut menyebarkan selebaran maklumat Kapolda Kalteng tentang larangan membakar,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penanganan karhutla membutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, relawan hingga media massa. Dengan kerja sama tersebut, potensi kebakaran diharapkan dapat terus ditekan meskipun kondisi cuaca mulai membaik. (nardi)











