SAMPIT – Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikuktura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Rendy Lesmana respon keluhan petani di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Senin 26 Januari 2026.
Rendy menanggapi keluhan petani yang mengeluhkan distribusi pupuk bersubsidi dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar yang dibutuhkan untuk alat pertanian. Ia mengatakan bahwa pihaknya akan mengkonfirmasi keluhan itu ke PT Pupuk Indonesia.
“Untuk distribusi pupuk kami coba koordinasi dengan PT Pupuk Indonesia tentang keluhan ini,” kata Rendy.
Dirinya juga mengatakan bahwa BBM jenis solar untuk alat pertanian memang tidak ada subsidi seperti BBM bagi nelayan. ia akan berupaya mengkonfirmasi hal tersebut kepada Pertamina sebagai penyalur.
“Untuk BBM bidang pertanian menang tidak seperti bidang nelayan. Ini kami coba tanya dulu ke Pertamina sebagai penyalur di SPBU,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun oleh Berita Sampit, kini gudang pupuk yang ada di Desa Lampuyang langsung dibuka.
Diberitakan sebelumnya bahwa para petani di Desa Lampuyang mengeluhkan distribusi pupuk yang sulit mendapatkan distribui pupuk subsidi untuk menunjang kebutuhan pertanian.
“Pupuk nya ada jika sudah lewat masanya. Jika diperlukan maka sulit didapatkan,” kata Jumain.
Ia menyebut bahwa para petani kerap membeli pupuk dengan harga yang mahal karena ketersediaan pupuk di gudang sulit didapat jika saat waktu pemupukan.
“Jika punya uang sebagian memilih beli sendiri. Milik saya tidak saya pupuk sama sekali,” keluhnya.
Selain itu, ia juga mengeluhkan distribusi solar untuk alat pertanian. Menurutnya, alat pertanian sangat banyak di Desa Lampuyang tetapi bahan bakar sangat sulit di dapatkan.
“Mau ikut membeli di SPBU harus antri dan sulit karena ada regulasi yang mengatur. Alat banyak tetapi tidak maksimal karena keterbatasan bahan bakar,” tandasnya.
Menanggapi hal itu, Abdul Hafid mengatakan akan menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan dan keluhan para petani. Ia menyebut masalah pertanian bukan hanya berpacu di Kabupaten tetapi di tingkat Provinsi dan pusat.
“Akan kita catat dan kita bicarakan. Masalah pertanian tidak hanya di tingkap Kabupaten, tetapi juga pusat dan provinsi,” pungkasnya.
(Utomo)












