Perjalanan Karier dr. Yulia Nofiany dari Puskesmas Hingga Direktur RSUD Murjani Sampit

NARDI/BERITASAMPIT - Direktur RSUD dr Murjani Sampit dr Yulia Nofiany.

Karier Direktur RSUD dr Murjani Sampit dr. Yulia Nofiany tumbuh melalui proses bertahap di dunia . Pengalaman panjang di puskesmas, pembenahan sistem rumah sakit, hingga saat ini dipercaya sebagai pemimpin membentuk cara pandangnya dalam melayani masyarakat hingga mewujudkan target membangun layanan berbasis kompetensi.


Oleh: Ahmad Winardi, Sampit


TIDAK banyak yang tahu, sebelum duduk di kursi Direktur RSUD dr. Murjani Sampit, dr. Yulia Nofiany menghabiskan lebih dari satu dekade melayani masyarakat dari ruang-ruang sederhana puskesmas, menghadapi langsung denyut persoalan di tingkat paling dasar.

Bukan karir kilat yang diamanahkan kepadanya saat ini, ia menapaki jenjang karir di dunia secara bertahap, jenjang demi jenjang, dari layanan dasar di puskesmas hingga akhirnya dipercaya memimpin RSUD dr. Murjani Sampit sebagai rumah sakit rujukan utama di Timur (Kotim).

Dr. Yulia memulai pengabdiannya sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap pada 2003 di Puskesmas Ketapang I. Tiga tahun kemudian, pada 2006, ia diangkat sebagai aparatur sipil negara dan tetap bertugas di puskesmas tersebut. Sekitar 12 tahun pengabdian dijalaninya di layanan primer sebagai pelayan masyarakat.

Pengalaman panjang di puskesmas itu membentuk pemahaman mendalam tentang kebutuhan riil masyarakat, sekaligus menjadi fondasi kuat dalam melihat persoalan dari sudut pandang pelayanan dasar.

Pada 2016, Yulia mulai bergabung dengan RSUD dr. Murjani Sampit. Saat itu, ia terlibat langsung dalam pembenahan sistem klaim BPJS pada masa awal penerapan Jaminan (JKN).

“Pada periode 2014–2015, tingkat penolakan klaim bahkan mencapai sekitar 80 hingga 90 persen, sehingga sistem pengelolaan klaim perlu ditata ulang secara menyeluruh,” ungkapnya, Senin 2 Februari 2026.

Penugasan untuk merapikan sistem tersebut menjadi pintu masuk dr. Yulia ke ranah manajemen rumah sakit.

Kariernya kemudian berlanjut sebagai Kepala Seksi Pelayanan Medik pada 2017. Struktur pelayanan selanjutnya dipecah menjadi pelayanan rawat inap dan rawat jalan. Dr. Yulia dipercaya menangani pelayanan rawat inap, sementara rawat jalan diampu pejabat lain. Jabatan tersebut dijalaninya hingga 2021, sebelum kemudian dipercaya menjabat sebagai Kepala Bidang sampai 2024.

Pada September 2024, dr. Yulia ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Direktur RSUD dr. Murjani. Selanjutnya, pada April 2025 ia menjabat sebagai Wakil Direktur, hingga akhirnya resmi dilantik sebagai Direktur RSUD dr. Murjani Sampit pada Jumat, 30 Januari 2026 setelah melalui proses seleksi terbuka.


Menuju Target 2030

Ke depan, dr. Yulia menegaskan arah strategis RSUD dr. Murjani menuju rumah sakit rujukan layanan KJSU (kanker, jantung, stroke, serta uro-nefrologi) pada 2030.

“Untuk mencapai target tersebut, RSUD dr. Murjani mulai menyusun tahapan pengembangan secara bertahap sejak 2026. Berbagai langkah strategis disiapkan untuk memenuhi target jangka menengah dan panjang rumah sakit,” tegasnya.

Salah satu fokus utama adalah akselerasi pemenuhan instrumen akreditasi, mengingat perpanjangan akreditasi dijadwalkan pada Januari 2027. Meski masih lebih dari setahun, persiapan telah dilakukan sejak 2026 melalui pengumpulan dan pemenuhan instrumen yang dilaporkan ke lembaga akreditasi.

Selain itu, dilakukan akselerasi pemenuhan rumah sakit menuju standar berbasis kompetensi. Ke depan, perizinan rumah sakit tidak lagi didasarkan pada klasifikasi A, B, C, atau D, melainkan pada kompetensi layanan yang ditonjolkan. Penilaian dilakukan melalui input data layanan dan sumber daya pada sistem , seperti aplikasi sarana prasarana dan sistem SDM rumah sakit.

“Dengan sistem tersebut, keunggulan masing-masing rumah sakit dapat terlihat secara jelas, apakah pada layanan jantung, stroke, paru, atau layanan spesifik lainnya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa perbaikan pelayanan juga menjadi fokus utama. Pengembangan tidak hanya diarahkan pada fisik bangunan dan sarana prasarana. Sekitar 80 persen alat di RSUD dr. Murjani disebut sudah terpenuhi, sehingga saat ini perhatian lebih difokuskan pada pengembangan sumber daya manusia dan perbaikan budaya pelayanan.

Masukan dan kritik dari masyarakat dipandang sebagai pengingat terhadap pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Pelatihan, pendidikan, hingga program Training of Trainers terus didorong agar tenaga internal mampu menjadi pendidik dan pelatih, sekaligus meningkatkan profesionalisme layanan.

“Kami ingin memperbaiki kualitas, bukan sekadar kuantitas,” tegasnya.


Akselerasi Berbasis Kompetensi

DENGAN pendekatan berbasis kompetensi, rumah sakit diarahkan menjadi rujukan sesuai keunggulan layanan yang dimiliki, seperti jantung, paru, atau layanan lainnya. Konsep ini diharapkan menjadikan RSUD dr. Murjani sebagai rujukan bagi daerah lain.

Sistem rujukan ke depan juga tidak lagi berbasis kelas rumah sakit, melainkan berdasarkan kompetensi layanan. Melalui sistem BPJS , pasien yang akan dirujuk nantinya akan mendapatkan rekomendasi rumah sakit terbaik sesuai jenis penyakit yang diderita.

Pada April, RSUD dr. Murjani dijadwalkan mulai mengoperasikan layanan bedah saraf dan catheterization laboratory.

“Sehingga target kita menjadi rujukan stroke dan jantung pada 2026. Masyarakat tidak perlu lagi berobat ke luar daerah,” ungkapnya.


20 Mesin Cuci Darah akan Operasional

Yulia juga menyampaikan bahwa saat ini tengah dilakukan supervisi dan visitasi dari Korwil PERNEFRI Kalteng, dr. Untung Surapati dari RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, sebagai supervisor penjamin mutu layanan hemodialisis RSUD dr. Murjani.

Survei tersebut dilakukan untuk menilai kelayakan RSUD dr. Murjani dalam mengoperasikan 20 mesin hemodialisis atau mesin cuci darah. Layanan hemodialisis diperluas dari sebelumnya 12 unit menjadi 20 unit.

Saat ini, antrean pasien hemodialisis mencapai sekitar 300 orang, tidak hanya berasal dari Kotim, tetapi juga dari wilayah dan wilayah Selatan. Dengan 20 mesin, rumah sakit ditargetkan mampu melayani hingga 40 pasien per hari. Pada Februari ditargetkan seluruh persyaratan rampung, dan Maret layanan diharapkan sudah operasional.


Kemanusiaan Diatas Segalanya

Dr. Yulia menegaskan bahwa profesi dokter tidak semestinya berorientasi pada profit semata. Menurutnya, dunia kedokteran adalah panggilan kemanusiaan yang harus dijalani dengan empati.

“Menjadi dokter jangan berorientasi profit. Ketika terjun ke lapangan, kita harus memiliki empati terhadap kondisi masyarakat. Tanamkan nilai kemanusiaan dan pengabdian,” tegasnya.

Jika sejak awal orientasinya hanya keuntungan, ia menilai seseorang tidak akan nyaman bekerja dalam sistem saat ini, sehingga kinerjanya pun tidak maksimal.

“Yang paling utama adalah kemanusiaan. Profit itu nomor 40 sekian, sangat jauh,” ujarnya.

Di tengah dinamika kritik publik terhadap layanan rumah sakit, ia memandang kritik dan saran sebagai hal wajar dan justru menjadi pengingat terhadap ekspektasi masyarakat.

“Kritik itu penting selama berimbang. Masyarakat berharap layanan terbaik, sementara kami berproses. Tugas kami adalah memperkecil jarak antara harapan masyarakat dan kemampuan internal rumah sakit,” katanya.

Kepada para tenaga , dr. Yulia selalu menanamkan nilai empati. Setiap pasien harus diperlakukan layaknya keluarga sendiri.

“Saya selalu berpesan kepada tenaga , anggap pasien itu adalah kita atau keluarga kita, sehingga pelayanan yang diberikan benar-benar maksimal,” ujarnya.

Bekerja di rumah sakit, menurutnya, bukan sekadar rutinitas, melainkan panggilan hidup di bidang kemanusiaan. Pasien datang bukan dalam kondisi ceria, tetapi dalam kesakitan, sehingga empati harus terus dijaga.

“Jangan sampai karena setiap hari bertemu orang sakit, empati kita justru menurun. Sensitivitas itu harus terus dijaga,” tegasnya.

Dengan bekal pengalaman panjang dari layanan dasar hingga manajemen rumah sakit, dr. Yulia Nofiany menapaki kepemimpinan RSUD dr. Murjani Sampit dengan arah yang jelas dan bertahap.

Di tengah tuntutan pelayanan yang terus meningkat, ia berupaya menyeimbangkan profesionalisme, kompetensi, dan nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama. Langkah-langkah perbaikan yang kini dijalankan menjadi pijakan penting bagi RSUD dr. Murjani untuk tumbuh sebagai rumah sakit rujukan berbasis kompetensi, sekaligus hadir lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat . (Nardi)

baca juga ...  Wabup Kotim Lepas Ratusan Siswa MTSN 1 Kotim, Tekankan Pentingnya Pendidikan dan Akhlak
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!