Partikel Karhutla Masuk Rumah dan Mata Perih, Asap Kian Pekat di Sampit

NARDI/BERITASAMPIT - Partikel debu Karhutla menempel di kain hingga masuk dalam rumah.

SAMPIT – Kondisi kualitas udara di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, kembali dikeluhkan warga. Memasuki Minggu 20 September 2026, kabut asap terlihat semakin pekat terutama menjelang sore hingga malam hari. Tidak hanya asap, partikel debu, abu, dan jelaga sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga berterbangan dan mulai mengganggu aktivitas masyarakat.

Partikel halus berwarna kehitaman dan abu tampak menempel di lantai, meja, hingga perabot rumah tangga. Sejumlah warga mengaku harus lebih sering membersihkan rumah karena debu dan abu cepat kembali menumpuk meski baru saja disapu.

Dampak kabut asap juga dirasakan para pelaku usaha makanan yang harus ekstra hati-hari dalam berjualan karena lengah sedikit debu karhutla bisa masuk ke makanan.

“Jika dibiarkan lama terbuka langsung kotor dan tidak layak dijual,” ujar Agung salah satu penjual makan di kawasan Nur Mentaya.

Begitu juga disampaikan penjual pakaian di MB Ketapang bernama Taufik menyampaikan produknya banyak ditempel debu sehingga harus dibersihkan.

“Harus sering-sering dibersihkan karena debunya sangat banyak,” ungkapnya.

Salah seorang warga lainnya, Vivi, mengaku keluarganya kini lebih banyak menutup pintu dan jendela rumah untuk mengurangi masuknya abu serta asap dari luar.

“Kami tutup pintu rumah dan jendela untuk meminimalisir abu karhutla. Baru disapu sekitar satu jam, lantai sudah berdebu lagi,” ujarnya.

Menurut Vivi, asap dan debu juga menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga. Pakaian yang dijemur di luar rumah menjadi berbau asap dan mudah terkena debu. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus lebih berhati-hati saat beraktivitas.

“Kalau keluar rumah harus pakai masker. Lihat sendiri debunya sampai dalam rumah dan mata terasa perih, apalagi kalau berada di luar. Sebaiknya jangan terlalu banyak beraktivitas di luar rumah,” katanya.

Ia juga mengaku prihatin terhadap kondisi anak-anak yang lebih rentan terdampak paparan asap dan partikel sisa kebakaran lahan yang terus terjadi di sejumlah wilayah Kotim.

Warga berharap kebakaran lahan yang masih terjadi dapat segera ditangani, dan juga semoga kemarau bisa segera berakhir sehingga kabut asap, abu, dan debu yang menyelimuti Kota Sampit tidak semakin memburuk dalam beberapa hari ke depan. (Nardi)

baca juga ...  Dewan Desak Polres Kotim Usut Tuntas Ancaman Terhadap Pastor Don Bosco
Bagikan:
Berita Populer