SAMPIT – Sebanyak enam individu orang utan berhasil diselamatkan dari sejumlah lokasi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dalam rangkaian penanganan satwa liar di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sementara itu, sejumlah orang utan lainnya dilaporkan muncul di kawasan terdampak kebakaran dan masih memerlukan pencarian maupun pemantauan.
Berdasarkan data yang dihimpun, enam ekor yang berhasil diselamatkan terdiri atas dua orang utan di kawasan Hutan Kota Sampit, satu individu di Desa Bagendang Tengah, satu individu di Jalan Cilik Riwut Kilometer 9, serta dua individu di Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi.
Raya dan Rayu Diselamatkan 2 September
Penyelamatan pertama yang tercatat dalam rangkaian laporan ini dilakukan pada Rabu 2 September 2026. Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International (OFI) menyelamatkan induk dan anak orang utan di kawasan Hutan Kota Sampit, Jalan Sawit Raya, Desa Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Kedua orang utan tersebut diberi nama Raya dan Rayu. Raya merupakan induk betina yang diperkirakan berusia 20 tahun, sedangkan Rayu adalah anaknya yang berusia sekitar satu tahun.
Keduanya ditemukan bertahan di atas pohon di sekitar lahan gambut bekas terbakar yang masih mengeluarkan asap. Setelah dievakuasi, pemeriksaan awal menunjukkan kondisi keduanya relatif baik dan tidak ditemukan luka bakar.
Sindi Dievakuasi 26 September
Penyelamatan berikutnya dilakukan terhadap seekor orang utan betina bernama Sindi di kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Ramban, Dusun Ramban, Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara.
Sindi pertama kali terlihat pada Jumat 25 September 2026 oleh warga dan regu pemadam perusahaan yang sedang mengambil air di sekitar lokasi. Satwa tersebut bertahan di atas pohon kering di kawasan yang vegetasinya didominasi tanaman kelapa sawit dan masih terbakar.
Tim penyelamat kemudian melakukan evakuasi hingga Sabtu 26 September 2026 dini hari. Sekitar pukul 02.30 WIB, Sindi berhasil diturunkan dari pohon dan diamankan. Pemeriksaan awal tidak menemukan luka bakar maupun luka lainnya pada tubuhnya.
Ira Diselamatkan 14 Oktober
Pada Rabu 14 Oktober 2026, seekor orang utan betina bernama Ira juga berhasil dievakuasi dari kawasan hutan bekas terbakar di Jalan Cilik Riwut Kilometer 9, jalur Sampit–Kota Besi.
Ira ditemukan bertahan di atas pohon setinggi sekitar 10 meter. Tim BKSDA bersama OFI, aktivis lingkungan, dan warga melakukan penyelamatan pada malam hari karena medan yang sulit, minim penerangan, serta banyaknya ranting dan tunggul kayu bekas kebakaran.
Ira akhirnya berhasil diturunkan dan diamankan. Orang utan betina yang diperkirakan berusia 20 tahun dengan berat sekitar 28 kilogram itu kemudian menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Gadis dan Garis Diselamatkan 23 Oktober
Penyelamatan terbaru dalam rangkaian laporan ini dilakukan pada Jumat 23 Oktober 2026 dini hari di Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi.
Tim BKSDA bersama OFI dan aktivis lingkungan menyelamatkan dua individu orang utan, yakni induk bernama Gadis yang diperkirakan berusia 25 tahun dan anaknya, Garis, yang berusia sekitar 10 bulan.
Keberadaan keduanya sebelumnya dilaporkan pada Kamis 22 Oktober 2026. Petugas kemudian melakukan koordinasi dan pemantauan sebelum tim penyelamat tiba di lokasi.
Saat pemeriksaan, petugas menemukan tali yang melilit kedua pergelangan tangan Gadis dan menyebabkan luka cukup parah. Tali tersebut diduga merupakan jerat yang biasa digunakan untuk menangkap babi. Gadis kemudian mendapatkan penanganan medis, sedangkan Garis turut diamankan bersama induknya.
Orang Utan Dilaporkan Muncul di Sejumlah Lokasi Lainnya
Selain enam individu yang telah diselamatkan, laporan kemunculan orang utan juga diterima dari sejumlah wilayah lain di Kotim, seperti di Bagendang dan Mentaya Hulu.
Di Bagendang Hilir, BKSDA Resort Sampit menerima laporan kemunculan orang utan dari warga, lalu melakukan observasi pada 19 Oktober 2026. Satwa tersebut belum ditemukan saat pencarian.
Orang utan dilaporkan merusak tanaman sawit masyarakat diduga sedang kelaparan dan marah, namun pencarian BKSDA belum menemukan individu orang utan tersebut. Setidaknya dua ekor orang utan sempat terlihat oleh warga.
Petugas juga menemukan enam sarang orangutan, terdiri atas tiga sarang kelas A yang berada di batang pohon kelapa sawit dan tiga sarang kelas D.
Kemudian di Desa Tanjung Bantur, Mentaya Hulu, pada 25 Oktober 2026, keberadaan orang utan dilaporkan oleh Teguh Adinegoro dari pihak kecamatan. Kepala Desa Tanjung Bantur, Wahyudi, menyatakan satwa itu terlihat bersembunyi karena terdampak Karhutla, warga kemudian berupaya mencari namun terlihat kabur ke arah hutan.
Kepala Desa Tanjung Bantur Wahyudi menyampaikan mereka masih melakukan pencarian orang utan yang terlihat kabur ke tengah hutan.
“Masih pencarian, soalnya masuk hutan lagi,” ujarnya.
Kemudian BKSDA juga menemukan sarang orang utan di kawasan Lingkar Selatan Sampit belakang kantor Kecamatan MB Ketapang pada Senin 26 Oktober 2026.
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, satu sarang kelas C ditemukan di dekat pintu masuk Gang Kecamatan.
Petugas kemudian menelusuri dua jalur untuk memeriksa tanda-tanda keberadaan orangutan di sekitar lokasi.
“Pada jalur pertama, kami menemukan sarang lama di kawasan bekas terbakar. Sarang tersebut sebelumnya sudah terpantau pada 9 Oktober 2026. Penelusuran tidak dapat dilanjutkan lebih jauh karena kondisi jalur masih terbakar atau belum aman untuk dilewati,” jelas Muriansyah. (Nardi)











