Editor: A Uga Gara
JAKARTA— Manager Riset dan Program The Institute, Yossa Nainggolan menyampaikan bahwa politik SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) semakin mencuat jelang Pemilihan Umum (pemilu) Legislatif dan presiden pada 17 April mendatang.
“Isu SARA, memang sejak dari dulu, karena memang faktor keberagaman dan pluralisme di Indonesia tidak pernah selesai,” ujar Yossa dalam diskusi Empat Pilar MPR, ‘Isu SARA dalam Pilpres Hancurkan Kebhinekaan' di Parlemen Senayan, Jumat, (1/3/2019).
Isu SARA, kata Yossa, bahkan bergema karena dimanfaatkan oleh kedua Paslon capres-cawapres 01 dan dan 02 dimana masih ada kekerasan dan penganiayaan yang terjadi di lapangan. Meskipun sudah ada komitmen dari elit politik bahwa tidak perlu ada kampanye hitam pada Pilpres 2019.
“Namun, kenyataan di tingkat Grass Root atau akar rumput seolah-olah ada ‘Gap', sehingga politik SARA tak bisa terselesaikan,” ungkap dia.
Untuk itu, partai politik (parpol) dalam hal ini diminta berperan aktif mensosialisasikan soal keberagaman dan toleransi di masyarakat. Sehingga rakyat tidak terpecah belah, meskipun berbeda pilihan politik.
“Jadi, sekali lagi parpol itu penting memberikan pendidikan politik yang baik, supaya rakyat tetap bersatu dalam keberagaman,” tandas Yossa.
Sementara itu, Anggota MPR RI Fraksi PPP, Syaifullah Tamliha mengakui hampir semua pemilihan umum di dunia, termasuk Amerika Serikat memainkan komoditas politik isu SARA dalam setiap Pilpres.
Sedangkan di Indonesia sendiri, menurut Tamliha, bukan masalah perbedaan agama, tapi perbedaan aliran agama.
“Seolah olah Jokowi-Ma'ruf orang NU dan terkesan Prabowo-Sandi itu Muhammadiyah, itulah yang saya liat di media sosial terus bergentayangan setiap hari,” beber Tamliha.
Politisi asal Kalimantan Selatan itu berujar perbedaan aliran agama itu pun bisa dilihat ketika Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj secara langsung terlibat dalam pertarungan pilpres, dan bahkan Siradj menyebut kalau bukan Ma'aruf Amin, NU tidak akan mendukung Jokowi.
Sedangkan Muhammadiyah, lanjut Tamliha, didukung oleh Amien Rais, walaupun ketua umum Muhammadiyah tidak terang-terangan dukung Prabowo Subianto. Jadi, politik aliran agama yang paling berpengaruh dalam pilpres 2019.
“Jadi, ini perlu menjadi pemikiran kita bersama, sebab Amerika Serikat aja yang guru demokrasi itu masih ada Isu SARA. Itu hal yang menurut saya tidak bisa membenahinya, karena sudah terlanjur kebebasan demokrasi diberikan, maka sulit untuk menariknya kembali,” pungkas Syaifullah Tamliha.
(dis/beritasampit.co.id)












