Refleksi Hari Pahlawan, Jangan Jadikan Perbedaan Untuk Memecah Belah

Oleh : IBRAHIM

Perbedaan dulunya dijadikan sebagai kekuatan untuk membangun semangat melawan para penjajah, cita-cita Negara Indonesia yakni merdeka, dan mempertahankan kemerdekaan bumi Pertiwi.

Namun, seiring berjalannya waktu sejarah membuktikan justru narasi-narasi perpecahan dan kekerasan bermula dari anak bangsa sendiri. Padahal negara ini berdiri di atas perbedaan-perbedaan, satu sama lain saling memahami dan saling mengerti. Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

Sebagai generasi muda, penerus bangsa ini tentunya wajib untuk mengetahui sejarah agar tidak mudah dipecah belah antar anak bangsa. Kesatuan dan persatuan yang telah dirajut semestinya patut kita rawat dan jaga dengan baik.

Berbicara momentum Hari Pahlawan, pada Tanggal 10 November ini sendiri dipilih sebagai Hari Pahlawan karena pada hari itu pasukan Negara Indonesia melakukan perang pertama dengan pasukan asing setelah Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

itu menjadi salah satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Indonesia yang menjadi simbol atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Kini, sangatlah disayangkan mutu peringatan menurun dari tahun ke tahun, terutama bagi generasi muda, generasi muda seakan sudah tidak menghayati makna hari pahlawan. Sejatinya hari Pahlawan jangan hanya lebih mengedepankan unsur seremoni belaka, tanpa menghayati nilai-nilai perjuangan yang dipesankan oleh para pahlawan.

Sungguh ironi bila kita hanya memperingati hari pahlawan sebatas seremoni saja tanpa mengambil tauladan nilai-nilai perjuangan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai generasi muda tentunya kita harus mampu memberi makna baru atas atas peringatan bersejarah kepahlawanan dengan mengisi kemerdekaan sesuai perkembangan zaman.

Tentunya dengan situasi saat sekarang kita berharap akan muncul sosok banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan untuk kemajuan bangsa Indonesia di berbagi lini sektor.

baca juga ...  Selamat Hari Jadi Kampus Ku, Usia 32 Tahun Adalah Bentuk Kemajuan

Bangsa Indonesia kini sedang merindukan sosok pahlawan yang akan mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, dan Indonesia yang bersih dan bebas korupsi. Tapi sangatlah disayangkan, ibu Pertiwi kini sedang diwarnai kasus korupsi yang sudah mencapai stadium terakhir.

Hal itu terjadi dengan mudahnya karena tentu saja ada keterlibatan para pejabat tinggi negara dan yang paling menyedihkan juga melibatkan para penegak hukumnya sendiri. Penegak yang semestinya memposisikan diri sebagai pemberantas korupsi kini justru kebalikan dari semua, korupsi kini merupakan akar dari kehancuran sebuah Negara ini.

Ingat, pahlawan tidak hanya muncul 10 November, tetapi sosok pahlawan harus ada setiap hari dalam kehidupan sehari-hari. Kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarg, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing.

Sejatinya peringatan Hari Pahlawan harus dijadikan momentum hari besar yang dirayakan secara khidmat, dan dengan rasa kebanggaan yang besar, karena merupakan itu merupakan kesempatan bagi seluruh warga negara untuk bisa mengenang jasa-jasa dan pengorbanan para pejuang yang tak terhitung jumlahnya dalam memperjuangkan tegaknya Republik
Indonesia yang baru saja diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

(Penulis merupakan wartawan www.beritasampit.co.id – mahasiswa semester VII – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa STIH Habaring Hurung Sampit)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!