PALANGKA RAYA – Kegiatan Sekolah Kader Lewu Harati angkatan 1 hingga kini masih berlanjut dengan menghadiri narasumber nasional maupun lokal. Kegiatan ini digelar Forum Pemuda Kalimantan Tengah (Forpeka).
Kali ini, secara daring melalui zoom, Minggu 4 April 2021, Forpeka menghadirkan narasumber Komisaris BPJS Ketenagakerjaan 2016-2021, Rekson Silaban. Dia membawa topik diskusi Gerakan Sosial dan Perubahan Kebijakan Publik.
Menurut Rekson perubahan kebijakan publik memang sulit dirubah, karena aktor dan sistem yang terjadi di sebuah lembaga dan aktor yang melindungi sistem yang ada. Namun, kata Dia, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kebijakan publik seperti pengetahuan, inovasi, sosial, politik dan ekonomi.
Selain itu, hasil riset, faktor lain adalah karena lahirnya undang-undang bencana seperti pandemi Covid-19 saat ini, ada pengaruh partai politik, organisasi masyarakat dan utang luar negeri.
“Untuk gerakan saat ini dibagi menjadi tiga kelompok seperti, gerakan kelompok kepentingan, gerakan kelompok penekan dan gerakan kelompok representasi,” ujat Rekson.
Gerakan bisa terjadi ada beberapa syarat, seperti terlibat dalam relasi konflik yang menciptakan ketidakpuasan, ada lawan yang ditetapkan secara jelas, terhubung dalam jaringan informal tinggi baik nasional maupun internasional, dan memiliki sebuah indentitas bersama yang berbeda dari kelompok lain.
Alasan individu mau masuk menjadi anggota gerakan, kata Rekson, seperti mau memperjuangkan nilai-nilai seperti keadilan, kebebasan, diskriminasi, keyakinan dan lain-lain melalui organisasi pergerakan. Ada juga yang masuk sebuah gerakan hanya mau mendapatkan keuntungan, manfaat dari sebuah organisasi.
Rekson menjelaskan, penyebab dari gerakan tersebut memudar, seperti gerakan kehilangan dukungan, kehilangan pasokan kadar ideologis dan menjadikan rekan gerakan menjadi lawan.
Sementara itu, Rekson juga menyampaikan, bahwa menjadi pemimpin gerakan atau organisasi yang baik harus bisa menjadi contoh bagi organisasinya, pemimpin gerakan jangan jadi pemimpin yang romantis dan tidak realistis.
“Hindari menjadi terkenal melebihi organisasi yang dipimpinnya, besarkan dulu organisasinya, sehingga dengan demikian pemimpin gerakan itu akan besar dengan sendirinya,” pungkasnya. (Hardi/beritasampit.co.id).











