SAMPIT- Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kotawaringin Timur Muhammad Irfansyah mengakui bahwa jumlah tenaga pengawas sekolah di wilayahnya masing sangat kurang.
Irfansyah menyampaikan salah satu masalah tidak berimbangnya jumlah tenaga pengawas dan sekolah maupun guru di lingkungan Disdik Kotim menjadi penyebab tidak optimalnya pengawasan terhadap kinerja guru di sekolah.
“Pengawas sekolah ada kekurangan karena regulasi hari ini. Harus dari guru penggerak yang sudah melakukan uji kompetensi kepengawasan,” kata Muhammad Irfansyah, Senin 5 Agustus 2024.
Sebelumnya, pihak sudah mengupayakan untuk menambah pengawas sekolah. Namu terbentur dengan regulasi pusat yang baru sehingga harus menunggu lebih lama.
“Kami sudah mengusulkan ke Pemda melalui BKPSDM untuk kepala sekolah senior menjadi pengawas. Namun sekarang tidak boleh lagi sekarang karena harus dari guru penggerak dan harus melalui aplikasi SIM Kepegawaian,” lanjutnya.
Untuk itu, saat tenaga pengawas sekolah di Kotim sangat tidak ideal. Sementara jumlah sekolah SD dan SMP di Kotim ada ratusan baik yang negeri maupun yang swasta.
“Pengawas di Kotim sekarang ada 21 orang. Jumlah 10 sekolah satu pengawas atau mengawasi 60 guru, tapi yang idea satu pengawas enam sekolah,” lanjutnya.
Sementara pengawas sekolah di Kotim satu pengawas mengisi melebihi batas minimun. Contohnya di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang harus mengawasi sampai 15 sekolah.
“Misal yang di Kecamatan Ketapang. membawahi 15 sekolah seharusnya maksimum 10, jadi masih dibutuhkan 40 pengawas,” jelas Irfansyah.
Irfansyah harapkan ada solusi di Kemendikbud dan berupaya untuk menindaklanjuti ini ke dirjen GTK di pusat untuk mencarikan solusinya seperti apa dan bagaimana?
“Semuanya juga harus soalnya kotim jarak tempuhnya jauh-jauh apalagi di kecamatan yang jauh dari pusat kota mereka harus mengawasi sekolah-sekolah yang jarak tempuhnya begitu jauh,” pungkasnya.
(ibra)











