SAMPIT – Muncul isu hanya dua pasangan calon yang nantinya akan berlaga di Pilkada Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) 27 November 2024 mendatang, melihat dari perkembangan peta politik saat ini.
Artinya akan ada bakal calon yang nampaknya tidak bisa maju lantaran tidak cukup perahu untuk mengusung nantinya.
Saat ini komposisi kursi legislatif yakni PDIP 10, Gerinda 6, Golkar 5, PAN 5, PKB 5, Demokrat 3, PKS 3, Nasdem 2, dan Perindo 1.
Bahkan saat ini perebutan kursi tengah gencar di tingkat pusat melalui lobi-lobi yang dilakukan oleh para bakal calon.
Adapun saat ini yang tengah gencar yakni Halikinnor, Irawati, Sanidin dan Jhon Krisli. Empat nama ini dinilai sebagai yang kuat untuk maju di Pilkada Kotim.
Baru-baru ini Irawati sendiri mengaku tengah berkomunikasi dengan Rudini dan diakuinya akan terjawab dalam waktu dekat.
Sementara Halikinnor nampak bergerak sendiri dengan mengejar rekom Gerindra hingga mendaftarkan diri ke PKS di detik-detik akhir, tidak hanya itu Halikinnor juga kabarnya tengah mengincar PKB dan Golkar. Akankah Halikinnor meninggalkan PDIP?.
Di sisi lain juga beredar kabar duet Jhon Krisli-Siyono pecah, ke mana Siyono yang resmi sebagai kader Golkar?, Akankan maju dengan bakal calon lainnya?.
Pengamat hukum dan politik Kotawaringin Timur Nurahman Ramadani menyebutkan kemungkinan head to head di Pilkada Kotim bisa saja terjadi. Apalagi jika PDIP tidak lagi mengusung pasangan Halikinnor-Irawati, dan hanya mengusung salah satunya saja.
“Kita lihat nanti, ke mana arah PDIP. Apakah mengusung Harati atau salah satunya saja,” kata Nurrahman, Senin 12 Agustus 2024.
Selain nama Halikinnor dan Irawati kata dia Sanidin tidak bisa dianggap enteng, sebagai kader posisi tawarnya untuk mendapatkan rekomendasi Gerindra lebih besar, di sisi lain Sanidin juga kabarnya sudah bisa dipastikan bisa mendapatkan rekomendasi dari partai lainnya untuk melengkapi jumlah kursi Gerindra saat ini.
“Jika Sanidin bisa mengunci Gerindra plus partai pelengkapnya, sisanya akan direbut bacalon lain, tinggal bagaimana manuver mereka, nah dampak dari ini bakal ada yang tertinggal. Apalagi jika benar Irawati-Rudini bakal berpasangan, dan PDIP bisa mengusung Irawati, dan Rudini bisa mengunci PAN,” tegasnya.
Sementara itu di sisi lain kata Nurahman yang ramai diperbincangkan nama Siyono yang juga secara resmi sebagai kader Golkar dikabarkan bakal meninggalkan Jhon Krisli.
“Jika benar Jhon-Siyono pecah peta ini akan berubah, apakah Golkar tetap bisa bertahan kepada Jhon atau sebaliknya meninggalkannya, saat ini juga Jhon belum juga dapat rekomendasi Demokrat, padahal sejumlah daerah sudah diumumkan,” tukasnya.
Jhon harus bekerja keras, agar bisa mendapatkan parpol lainnya, begitu juga Halikinnor jika tidak ingin bersama PDIP lagi.
“Tapi jika PDIP mengusung Halikinnor, maka Irawati yang harus kerja keras untuk cari parpol lain, Jhon juga jika tidak bisa mendapatkan Golkar harus segera mencari partai lain yang posisinya lima kursi, selain Golkar. Demokrat harus bisa dipastikan mengusungnya,” tegasnya.
Sesuai peraturan KPU bahwa yang bisa mengusung paslon adalah minimal memiliki 20 persen kursi di legislatif Kotim atau 8 kursi daei hasil Pileg 2024.
“Namun politik ini dinamis, masyarakat masih menunggu, kita lihat saja nanti setelah semua hasil rekom diungkapkan,” pungkasnya.
(Nako/Nardi)











