SAMPIT – Dalam debat kedua Pilkada Kotawaringin Timur (Kotim) salah satu pasangan calon (Paslon) mempertanyakan realisasi program kerja Sanidin-Siyono (SS) yang dianggap terlalu ambisius di tengah keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kotim yang masih dalam tahap pemulihan pasca Covid-19.
Menanggapi hal tersebut, Sanidin menjelaskan bahwa program-programnya dalam Kotim Bahalap disusun berdasarkan potensi daerah yang realistis dan bisa digali lebih maksimal.
“Kami tidak hanya mengandalkan APBD. Kotim memiliki banyak sumber pendapatan potensial yang belum digali secara optimal,” kata Sanidin.
Contohnya melalui BUMD yang mengelola berbagai sektor, salah satunya pelabuhan yang hingga kini belum beroperasi maksimal.
“Dengan pengelolaan yang tepat dan menempatkan orang-orang yang proporsional, potensi ini bisa berkembang pesat,” ungkapnya.
Sanidin juga menyinggung kontribusi Perusahaan Besar Swasta (PBS) perkebunan kelapa sawit di Kotim. Menurutnya, melalui dana CSR, PBS dapat berperan aktif dalam membangun daerah.
“Kami akan mendorong PBS untuk berkontribusi melalui CSR. Semua investor tentu ingin melihat daerah ini maju, dan ini peluang yang harus dimanfaatkan,” tambahnya.
Dengan berbagai sumber dana program unggulan seperti 2.000 beasiswa, atau 10 sarjana tiap desa bisa tercapai.
“Beberapa waktu lalu para mahasiswa datang kepada kami agar beasiswa bisa diberikan pada mahasiswa asli daerah sehingga memang tepat sasaran untuk memajukan kualitas pendidikan di Kotim,” ungkapnya.
Pendanaan tidak hanya bergantung pada APBD. Ada sektor lain yang bisa membantu, dan jika semua potensi ini dimanfaatkan secara maksimal, program Kotim Bahalap membangun desa menata kota bisa terwujud.
(Nardi)











