SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menggelar rapat koordinasi penyiapan areal pengembangan lahan untuk tanam jagung serentak di seluruh desa sebagai tindak lanjut instruksi Presiden RI, Prabowo Subianto.
“Kami menargetkan setiap desa menyediakan 100 hektare untuk tanam jagung. Dengan jumlah 168 desa di Kotim, target totalnya adalah 23.217 hektare,” ujar Bupati Kotim Halikinnor, Rabu 15 Januari 2025.
Ia meminta para kepala desa melakukan sosialisasi kepada warga bahwa hasil panen jagung akan dibeli pemerintah melalui Bulog dengan harga yang menguntungkan.
“Masyarakat tidak perlu khawatir rugi atau merasa menanam sayur lebih menguntungkan dibandingkan jagung,” tegasnya.
Halikinnor juga mengingatkan agar pembukaan lahan tidak dilakukan dengan cara membakar, mengingat pemerintah telah menyediakan ekskavator di setiap kecamatan untuk mendukung pengolahan lahan.
Ia memastikan bahwa program ini, yang merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo, telah dilengkapi dengan anggaran yang memadai.
Program ini diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus menyuplai bahan pokok untuk program makan bergizi gratis dari pemerintah pusat.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah juga menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering dan jagung. Gabah kering panen (GKP) akan dibeli dengan harga Rp 6.500 per kilogram, sementara jagung dihargai Rp 5.500 per kilogram.
Camat Cempaga, Ady Candra, menyatakan kesiapan wilayahnya untuk mengolah lahan gambut seluas 50 hektare yang sebelumnya sempat berhasil digunakan untuk panen raya pada masa pemerintahan Bupati Supian Hadi.
“Kami siap mengolah lahan ini menjadi area tanam jagung,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Bangkuang Makmur, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Lelesyamsu, mengungkapkan bahwa pihaknya harus mempersiapkan lahan lain, mengingat sebagian besar lahan di desa tersebut telah digunakan untuk perkebunan sayur dan kelapa sawit.
“Lahan kosong saat ini sudah ditanami sawit dan membutuhkan waktu untuk pemulihan kesuburan tanah agar bisa ditanami jagung. Kami juga membutuhkan anggaran untuk pengelolaan,” jelas Lelesyamsu.
(nardi)












