KUALA KAPUAS – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Dinas Pendidikan Kabupaten Kapuas bersama Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah menegaskan komitmennya untuk menjaga warisan budaya lewat program penguatan literasi dan pelestarian bahasa daerah.
Langkah strategis ini diwujudkan dalam bentuk kolaborasi program kebahasaan yang menyasar lingkungan sekolah, tenaga pendidik, hingga komunitas bahasa di tengah masyarakat. Tak hanya sebatas kerja sama administratif, sinergi ini menargetkan perubahan nyata dalam cara generasi muda memahami dan menggunakan bahasa.
Kepala Dinas Pendidikan Kapuas, Suwarno Muriyat menyampaikan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga fondasi utama dalam dunia pendidikan.
“Literasi kuat dimulai dari bahasa yang kuat. Dengan menggandeng Balai Bahasa, kami ingin anak-anak kita tidak hanya fasih berbahasa Indonesia, tapi juga mencintai bahasa daerah mereka sendiri,” ujarnya, Selasa 24 Juni 2025.
Adapun program yang telah dan sedang digulirkan meliputi pelatihan literasi berbasis budaya lokal, pendampingan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar di lingkungan pendidikan dan birokrasi, serta revitalisasi bahasa daerah yang mulai terpinggirkan.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalteng, Sukardi Gau, menekankan pentingnya keterlibatan banyak pihak dalam upaya revitalisasi bahasa.
“Bahasa daerah adalah identitas budaya. Tanpa upaya kolektif, kita berisiko kehilangan jejak leluhur. Kerja sama dengan Disdik Kapuas ini bisa jadi model untuk kabupaten lain,” katanya.
Salah satu poin penting dalam kerja sama ini adalah penyusunan dan implementasi Nota Kesepakatan yang menjadi payung hukum berbagai inisiatif pelestarian bahasa di Kapuas.
Sementara itu, pelestari bahasa Dayak Ngaju sekaligus Korwil Pendidikan Kecamatan Bataguh, Gatin, menyambut positif langkah ini. Ia berharap ke depan revitalisasi juga menyasar bahasa Dayak Bakumpai dan Dayak Ut Danum yang kini makin jarang terdengar di ruang publik.
“Bahasa adalah roh budaya. Kalau hilang, yang lenyap bukan cuma kata-kata, tapi seluruh peradaban yang melekat padanya. Saya bangga kini sekolah mulai mengenalkan kembali bahasa leluhur kepada generasi muda,” pungkas Gatin.
Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis komunitas, sinergi antara Disdik Kapuas dan Balai Bahasa Kalteng ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang tak hanya modern, tetapi juga berakar kuat pada budaya lokal. (ds)












