PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah mempersiapkan kawasan seluas lebih dari 18 ribu hektar untuk mendukung investasi di sektor peternakan, khususnya sapi perah.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Kalteng, Rendy Lesmana, dalam pertemuan bersama Direktorat Jenderal (Ditjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI di Ruang Rapat Bajakah, Kantor Gubernur Kalteng, Jumat pagi, 18 Juli 2025.
“Survei awal untuk investasi sapi perah sudah dilakukan sejak Oktober 2024. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan Provinsi dan dinas teknis di Barito Utara dan Barito Selatan,” ujar Rendy.
Lahan yang diusulkan untuk investasi ini mencakup total 18.050 hektar, masing-masing tersebar di Kabupaten Barito Selatan (9.405 hektar) dan Kabupaten Barito Utara (8.645 hektar).
Rendy menyebut bahwa lahan tersebut ditentukan berdasarkan hasil tumpang susun (overlay) dengan kawasan kehutanan yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan Kalteng.
Lebih lanjut, Rendy menegaskan bahwa program investasi ini tidak hanya mendukung kebutuhan lokal, tetapi juga sejalan dengan visi dan misi Gubernur Kalteng dalam mendorong orientasi ekspor untuk produk peternakan.
“Kegiatan ini akan dikaitkan langsung dengan program strategis Gubernur. Ke depan, produk dari investasi ini ditargetkan bisa masuk pasar ekspor, meskipun tetap menjawab kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Pakan Ditjen PKH, Tri Melasari, menyatakan bahwa Kementerian Pertanian saat ini tengah mendorong strategi jangka menengah untuk mendatangkan investasi besar di sektor sapi indukan secara nasional.
Targetnya, sebanyak satu juta ekor sapi indukan masuk ke Indonesia hingga 2029.
“Fokus kami bukan lagi pada pengadaan langsung, tapi memfasilitasi peran swasta dan investor. Kalimantan Tengah memiliki potensi besar untuk itu,” kata Tri.
Ia menambahkan bahwa saat ini Indonesia masih mengalami defisit signifikan dalam pemenuhan protein hewani.
Kebutuhan daging sapi nasional baru mampu dipenuhi sebesar 48 persen, sedangkan pasokan susu dalam negeri tertinggal hingga 79 persen dari kebutuhan nasional.
“Ini bukan sekadar menjawab kebutuhan sesaat. Kita harus membangun sistem peternakan berkelanjutan yang berfokus pada pembibitan, bukan hanya penggemukan,” jelasnya.
Tri menyampaikan apresiasi terhadap kesiapan lahan dan dukungan pemerintah daerah di Kalimantan Tengah, yang menurutnya menjadi modal awal penting dalam mendorong masuknya investasi strategis berbasis peternakan sapi perah dan indukan.
(Sya'ban)












