Siswa Sekolah Rakyat Kotim Diduga Alami Perundungan Tak Mau Kembali ke Sekolah

IST/BERITASAMPIT - P saat dirumah neneknya muntah-muntah.

SAMPIT – Seorang siswa Sekolah Rakyat Timur (Kotim) berinisial P (8) dikabarkan enggan kembali ke sekolah setelah diduga mengalami tindakan perundungan (bullying).

Informasi ini disampaikan oleh W, tante korban, yang menyebut keponakannya dibawa pulang dengan kondisi mata lebam dan mengaku sempat dipukul oleh temannya.

“Iya benar, sering ribut sama temannya. Kemarin dijemput, matanya biru. Kata P, dia ditampar sama temannya. Karena sering ribut, jadi dijemput pulang, takut terjadi apa-apa,” ujar W saat dikonfirmasi, Senin 20 Oktober 2025.

Ibu P, berinisial N, menyampaikan bahwa anaknya sejak kecil memang ikut neneknya bukan dengan dirinya. Informasi yang ia dapat saat ini P sedang sakit dan sempat muntah-muntah, diduga akibat perkelahian.

“Bawah matanya biru saat dijemput, kata neneknya P diminta uang sama temannya, ngotot minta, dan marah kalau tidak dikasih,” ungkap N.

Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Kotim, Nikkon Bhastari, mengaku belum mengetahui adanya dugaan infomasi bullying tersebut.

Menurutnya, neneknya datang ke sekolah saat Sabtu, dan P yang masih duduk di bangku SD ini sempat meminta izin pulang ke rumah neneknya di Sampit.

“Mungkin karena rindu dengan neneknya, jadi dia minta pulang. Sama wali asrama, kami beri izin tiga hari, Sabtu, Minggu, dan Senin, tapi hari ini belum kembali ke sekolah. Kami coba lihat hari ini belum kembali mungkin masih rindu. Besok akan kami tindaklanjuti dengan mengunjungi rumah neneknya di Sampit,” ujar Nikkon.

Terkait dugaan perundungan, Nikkon menyebut tidak ada indikasi tersebut jika melihat dari rekaman CCTV sekolah. Ia menjelaskan, P dikenal sebagai anak yang aktif dan ceria.

“P itu anaknya aktif, suka bermain, bahkan sempat salto di hadapan Wakil Bupati Kotim saat kunjungan ke sekolah. Tapi kami memang tidak bisa memantau mereka terus-menerus di kamar,” tambahnya.

Mengingat banyak siswa Sekolah Rakyat berasal dari berbagai pelosok daerah, Nikkon menilai perlu dilakukan pembinaan intensif mengenai perilaku sosial dan pencegahan bullying.

“Anak-anak dari daerah pelosok ini kadang belum paham makna ejekan atau bercanda yang sehat. Jadi kami harus ekstra memberi pemahaman,” ujarnya.

Pihak sekolah berencana melakukan pertemuan dengan wali asrama dan keluarga P pada Selasa besok untuk membicarakan persoalan ini lebih lanjut serta mencari solusi terbaik agar P dapat kembali bersekolah dengan nyaman.

“Hari ini tadi ada guru coba ke rumah P dan masih ada anaknya, maka besok kami coba kembali untuk mengajak P bisa kembali sekolah ataupun berbincang terkait masalah yang ada,” pungkasnya. (Nardi)

baca juga ...  Masuk Kampus Ini, KPK Ingin Ada Edukasi Anti Korupsi
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!