Menteri Bahlil Minta Gubernur Kalteng Kirim Kadis ESDM, Hitung Data Belum Berlistrik

SYAUQI/BERITA SAMPIT - Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia saat memberikan sambutan dalam acara Musda ke-XI Golkar Kalteng di Swiss-Belhotel Danum , Sabtu, 29 November 2025.

– Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta Pemerintah Provinsi (Kalteng) segera mengirim Kepala Dinas (Kadis) ESDM ke Jakarta. Permintaan ini bertujuan untuk menghitung dan memvalidasi data di Kalteng yang hingga kini belum teraliri listrik.

Bahlil menyoroti masih banyaknya wilayah di Indonesia yang belum menikmati akses listrik, meskipun negara ini telah merdeka puluhan tahun.

“Listrik kita masih ada 5.700 , 4.400 dusun yang belum ada listriknya. Bayangkan, negara sudah hadir 80 tahun, masih ada yang belum ada listrik,” kata Bahlil saat membuka Musda ke-XI Golkar Kalteng di Swiss-belhotel Danum , Sabtu, 29 November 2025.

Secara spesifik untuk Kalteng, Bahlil mengakui bahwa masih banyak yang belum teraliri listrik. Saat ini kata dia,
rasio elektrifikasi sudah mencapai 99 namun di daerah 3T baru 89 persen.

“Saya tahu di Kalteng juga banyak. Elektrifikasi kita 99 persen, tapi daerah 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal) baru 89 persen,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Bahlil mendesak kerja sama pemerintah daerah untuk menyelesaikan masalah infrastruktur dasar ini.

“Maka Pak Gub, kalau boleh kirim Kadis ESDM-nya ke kami untuk segera kita menghitung berapa yang belum ada listriknya di seluruh wilayah Kalteng,” ujarnya.

Menurut Bahlil, ketiadaan listrik menghambat kemajuan pendidikan dan teknologi di daerah. Ia menyebut kondisi ini sebagai ironi dalam pembangunan .

“Kita listrikkan mereka, karena tidak mungkin kita memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak kita dengan teknologi dan IT di sekolah-sekolah kalau tidak ada listrik, bagaimana cerita?” kata Bahlil.

Ketua Umum DPP Partai Golkar itu juga mengkritik pendekatan kebijakan yang sering kali terlalu terpusat di ibu kota. Ia menekankan bahwa di bawah Presiden Prabowi, kebijakan tidak boleh lagi menggunakan “selera Jakarta” yang mengabaikan realitas daerah.

“Selama ini selalu Jakarta menunya terlalu banyak. Seolah-olah apa yang ada di Jakarta sama dengan Kalteng, sama dengan Maluku, sama dengan Papua. Padahal itu perbedaan antara bumi dan langit,” tegas Bahlil.

Ia menambahkan, sudah saatnya kebijakan yang dibuat pemerintah pusat benar-benar menyasar kondisi riil masyarakat di seluruh pelosok negeri.

“Sudah saatnya kebijakan yang baik adalah kebijakan yang langsung mengena sasaran kondisi masyarakat di seluruh wilayah Republik Indonesia. Itu yang Golkar sedang perjuangkan dengan Presiden Prabowo, sudah barang tentu dengan partai lain,” pungkasnya.

(Syauqi)

baca juga ...  Gubernur: Pendidikan Digital Bukan Sekadar Teknologi, Tapi Keadilan
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!