Di Ambang Vonis, Kesetiaan Seorang Istri Menunggu Suami di Kursi Terdakwa

UTOMO/BERITA SAMPIT - Suasana di luar ruang sidang Pengadilan Negeri Sampit.

SAMPIT – Semilir angin di koridor Pengadilan Negeri Sampit tak mampu meredam kegelisahan Ai. Di bangku kayu ruang tunggu, ia duduk sambil menggenggam erat tangan anaknya yang baru berusia dua tahun, menanti pembacaan tuntutan jaksa terhadap sang suami, Rivan, yang terjerat perkara pencurian kelapa sawit.

Di balik pintu ruang sidang, Rivan menunggu nasibnya ditentukan. Bagi aparat , ia hanyalah satu dari sekian nomor perkara. Namun bagi Ai, Rivan adalah suami, ayah dari anaknya, dan harapan masa depan yang kini terombang-ambing di ruang pengadilan.

“Kesaksian saya sederhana, saya mengenal lelaki baik yang terseret, bukan penjahat yang digambarkan orang perusahaan,” kata Ai, Rabu 21 Januari 2026.

Sejak Rivan ditahan, hidupnya berubah menjadi ritual ketabahan yang melelahkan, mengantri untuk putusan vonis yang akan datang, menjadi tulang punggung tunggal dengan bekerja serabutan.

Kesetiaannya bukan tanpa ujian. Cibiran dari tetangga, pandangan menyudutkan dari teman-temannya, bahkan desakan untuk melupakan saja dan mulai baru sering ia sengar. Namun, di bangku kayu yang keras itu, dia memilih untuk bertahan.

“Janji kami sedang diuji. Duka kami sekarang mungkin dalam, tapi lari itu justru mengkhianati diri sendiri dan keluarga kami,” ujarnya.

Dia bercerita tentang Rivan sebelumnya yang bekerja ikut orang tuanya kemudian terseret dalam pilihan yang salah dibuat dalam keputusasaan, pergaulan yang keliru.

“Saya marah, tapi saya juga melihat penyesalan yang dalam di matanya setiap kali bertemu di ruang tahanan untuk menunggu persidangan di pengadilan,” ujarnya.

Di bangku tunggu, Ai mengedipkan air mata yang sudah lama menggenang. Bukan air mata kegagalan, tetapi air mata untuk sebuah kepastian bahwa kini ada hitungan mundur dan batas akhir untuk penantiannya.

“Tinggal sidang putusan lagi,” ucap Ai setelah pengadilan yang sudah sepi.

Ai adalah potret dari ribuan kesetiaan sunyi di balik jeruji besi kasus tindak pidana. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap statistik kejahatan, ada gelombang derita yang menghempas keluarga, dan di tengah gelombang itu, sering kali berdiri seorang istri, seorang ibu dengan kesaksiannya yang paling sederhana.

(Utomo)

baca juga ...  Bupati Kotim Akan Lantik Pejabat Tinggi Pratama, Kapan?

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!