Harga Elpiji Meroket, Warga Kotim Menjerit! di Balik Mahal dan Langkanya Gas Melon

UTOMO/BERITA SAMPIT - Warga Kecamatan MB Ketapang saat berkeliling ke beberapa pangkalan untuk mencari Elpiji 3 kilogram.

Warga Kabupaten Timur (Kotim) Mengeluhkan Sulitnya Mendapatkan Elpiji 3 Kilogram. Ditengah Kelangkaan Tabung gas bertuliskan “Untuk Masyarakat Miskin” Itu, Harga Kini Ikut Meroket Hingga Rp50 Ribu

UTOMO, Sampit

Bulan suci Ramadan yang seharusnya dijalani dengan penuh kekhusyukan, bagi sebagian ibu rumah tangga di Timur (Kotim) justru berubah menjadi perang harian. Bukan perang melawan hawa nafsu, melainkan perang melawan kelangkaan dan harga gas elpiji 3 kilogram yang meroket. Jeritan warga pun mulai terdengar dari pinggiran kota hingga ke pelosok .

Pemandangan ini terekam jelas di Kecamatan Baamang. Sinta, seorang warga, harus berjibaku mencari gas melon untuk memenuhi kebutuhan dapurnya. Kelangkaan di awal Ramadan 1447 Hijriah membuatnya harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain, dari satu warung ke warung berikutnya, hanya untuk memastikan keluarganya bisa memasak untuk sahur dan berbuka. Ia mengaku, kondisi ini sangat merepotkan, apalagi di bulan puasa aktivitas memasak justru meningkat.

“Biasanya mudah, tapi kemarin saya keliling beberapa warung dan pangkalan dulu baru dapat dan terbatas. Kalau Ramadan kan lebih sering masak. Jadi waktu gas habis dan susah dicari, jelas merepotkan,” keluhnya pada Selasa 24 Februari 2026.

Keluhan serupa juga datang dari Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Telaga Baru. Masyarakat di sana mengadukan harga gas elpiji 3 Kg yang mencapai Rp50 ribu per tabung, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang seharusnya.

Bukan Cuma Mahal, Isinya pun Tipis

Di tengah kelangkaan dan mahalnya harga, fakta lain yang lebih mencengangkan terungkap. Masyarakat tidak hanya mengeluhkan sulitnya akses, tetapi juga curiga bahwa gas yang mereka beli cepat habis. Kecurigaan itu ternyata beralasan dan kini tengah diselidiki aparat penegak .

Polda bersama Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kotim melakukan inspeksi mendadak di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) PT Niaga Jaya Makmur di Jalan Niaga, Kelurahan Pelangsian, pada 11 Februari 2026 lalu. Hasilnya mengejutkan. Dari 80 tabung sampel yang diuji timbang, ditemukan 46 tabung memiliki berat bersih di bawah standar, yakni hanya berkisar antara 2,7 hingga 2,8 kilogram.

Kabid Humas Polda Kalteng Kombes Pol Budi Rachmat menjelaskan, temuan ini mengkonfirmasi adanya dugaan pelanggaran Pasal 8 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Akibat temuan ini, dua nozel pengisian gas langsung dipasangi garis polisi, sementara 10 nozel lainnya masih beroperasi untuk menjaga pasokan.

Ulah Oknum dan Gangguan Distribusi

Wakil Bupati Kotim, Irawati, angkat bicara mengenai kelangkaan ini. Ia menjelaskan bahwa gangguan distribusi terjadi akibat kendala teknis pada fasilitas pengisian elpiji. Menurutnya, satu alat pengisian mengalami kerusakan, dan satu lainnya disegel aparat kepolisian karena kasus dugaan pengurangan takaran tersebut.

“Kalau yang disampaikan, ada kerusakan satu alat, kemudian satu lagi disegel oleh Polda Kalteng, sehingga tidak bisa melakukan pengisian. Akibatnya, distribusi tentu terganggu,” ujarnya.

Sejumlah agen kini terpaksa melakukan pengisian hingga ke Pangkalan Bun, Kabupaten Barat (Kobar) yang berdampak pada keterlambatan pasokan ke pangkalan-pangkalan di Kotim.

Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari DPRD Kotim. Ketua DPRD Kotim, Rimbun, mengecam keras kelangkaan yang dinilai sangat merugikan masyarakat kelas bawah, terutama menjelang Hari Raya. Ia menduga ada sejumlah masalah, mulai dari distribusi yang tidak merata hingga potensi praktik penimbunan oleh oknum yang memanfaatkan momentum.

“Ini juga dari awal memang LPG ini selalu ada trouble, baik kelangkaannya maupun juga kekurangan kilonya. Kita sambut baik apa yang dilakukan oleh aparat penegak . Kita minta semua kebutuhan masyarakat jangan sampai ada kendala dari LPG-nya,” tegas Rimbun.

Senada dengan Rimbun, Ketua Komisi II DPRD Kotim, Akhyannoor, meminta agar proses berjalan tegas untuk memberikan efek jera. Ia juga mengingatkan para pengecer untuk tidak menaikkan harga seenaknya.

“Semoga para kios pembagi elpiji 3 kilogram tidak seenaknya menaikkan harga. Ini gas subsidi, jadi harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” imbaunya.

Antara Janji dan Kenyataan di Lapangan

PT Pertamina Patra Niaga memastikan pihaknya mendukung penuh pengawasan yang dilakukan aparat. Area Manager Communication, Relations, & CSR PT Pertamina Regional Kalimantan, Edi Mangum, menyatakan dua Unit Filling Machine (UFM) yang bermasalah telah dihentikan operasionalnya dan sedang dalam proses pemeriksaan.

“Pertamina berkomitmen memastikan setiap proses pengisian elpiji 3 kg sesuai standar teknis dan ketentuan yang berlaku. Apabila terdapat temuan di lapangan, kami akan menindaklanjuti secara cepat dan melakukan perbaikan yang diperlukan,” ujar Edi.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk membeli elpiji di pangkalan resmi dan melapor jika menemukan kejanggalan.

Namun, imbauan dan janji tersebut belum sepenuhnya menjawab jeritan warga di lapangan. Di tengah harga yang mahal dan isi tabung yang tipis, masyarakat kecil seperti Sinta hanya bisa berharap agar distribusi segera lancar dan pengawasan benar-benar berjalan. Sebab, di dapur-dapur mereka, gas melon bukan sekadar komoditas, melainkan denyut nadi kehidupan sehari-hari yang terus berdetak, terutama di bulan yang penuh berkah ini.

baca juga ...  Wisatawan Jerman 'Lirik' Ritual Dayak Mamapas Lewu
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!