SAMPIT – Mewakili Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kotim, Waren menegaskan bahwa ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang sangat dinantikan oleh umat Muslim.
Ia mengingatkan para jemaah agar menjaga kondisi fisik serta memperkuat mental selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
“Ibadah haji adalah perjalanan spiritual yang dinanti seumur hidup. Jaga fisik, jaga hati, dan fokuslah beribadah agar kembali ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur,” ujarnya, Selasa 5 Mei 2026.
Selain itu, ia juga berpesan agar para jemaah menjaga kekompakan dan saling membantu satu sama lain, terlebih dalam menghadapi perbedaan cuaca ekstrem di Arab Saudi.
“Jaga kebersamaan, saling tolong-menolong, serta tetap bersikap sabar dan santun selama menjalankan ibadah,” tambahnya.
Keberangkatan ini, lanjutnya, bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga bentuk ketaatan dan kesabaran dalam memenuhi panggilan Allah SWT. Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk turut mendoakan agar seluruh jemaah diberikan kelancaran dan keselamatan.
Sebelumnya suasana haru dan penuh syukur menyelimuti keberangkatan jemaah haji asal Kabupaten Kotawaringin Timur menuju Tanah Suci. Prosesi pelepasan dilaksanakan di Banjarmasin, Sabtu 2 Mei 2026 lalu.
Pemerintah daerah secara resmi melepas para jemaah yang tergabung dalam Embarkasi Banjarmasin.
Berdasarkan data, jumlah jemaah haji asal Kotawaringin Timur tahun 2026 sebanyak 171 orang. Rinciannya, 167 jemaah tergabung dalam kloter 6 dan empat jemaah lainnya masuk dalam kloter 19.
Para jemaah diberangkatkan menuju embarkasi Banjarmasin melalui Bandara Haji Asan Sampit menggunakan maskapai Nam Air dalam dua sesi penerbangan. Sebanyak 100 jemaah berangkat pada penerbangan pertama, sementara 67 jemaah lainnya pada penerbangan kedua.
Untuk perjalanan ke Arab Saudi, jemaah dijadwalkan menggunakan maskapai Garuda Indonesia dan Saudia yang telah disiapkan untuk mengangkut jemaah menuju Tanah Suci.
Dari total tersebut, jemaah tertua berusia 77 tahun, sedangkan yang termuda berusia 24 tahun yang berangkat sebagai pengganti anggota keluarga yang telah meninggal dunia.
Pemerintah daerah bersama Kementerian Agama juga menyiapkan pendampingan bagi seluruh jemaah, termasuk memberikan prioritas kepada jemaah lanjut usia dan pengguna kursi roda pada penerbangan pertama agar memiliki waktu istirahat lebih panjang. (Nardi)












