SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Rabu 16 September 2026, di Aula Rumah Jabatan Bupati Kotim.
Rapat yang dipimpin Bupati Kotim Halikinnor tersebut turut melibatkan sejumlah perusahaan yang berada di sekitar wilayah terjadinya karhutla. Dalam rapat itu dilakukan pemetaan titik api di sejumlah kecamatan sekaligus melihat perusahaan yang lokasinya berdekatan dengan titik kebakaran.
Halikinnor mengatakan, perusahaan yang berada dekat dengan lokasi karhutla wajib melakukan pemadaman. Penanganan dilakukan secara bersama-sama agar titik api yang masih muncul dapat segera dikendalikan.
“Kita keroyokan saja sampai padam. Kita minta perusahaan membantu di wilayah masing-masing yang masih harus dipadamkan karhutlanya,” kata Halikinnor.
Ia menyebutkan, kondisi hujan memang sempat muncul di sejumlah wilayah namun belum berlangsung lama dan masih sebatas gerimis atau hujan singkat.
“Sekarang sifatnya sporadis saja. Hujan sebentar, gerimis. Dari ramalan cuaca mudah-mudahan Oktober sudah mulai hujan,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, sejumlah wilayah yang masih memiliki titik api juga dipetakan berdasarkan kondisi medan dan ketersediaan sumber air.
Di Kecamatan Teluk Sampit, misalnya, terdapat titik api yang cukup besar dan berjarak sekitar enam kilometer dari Sungai Mentaya. Jarak tersebut menjadi kendala tersendiri bagi petugas dalam melakukan pemadaman karena akses sumber air cukup jauh.
Sementara di wilayah Mentaya Hilir Selatan (MHS) terdapat sembilan titik dengan jarak sekitar 4,2 kilometer dari Sungai Ijum. Kondisi parit dan sumber air juga menjadi kendala sehingga alternatif penggunaan sumur bor perlu dipertimbangkan.
“Kalau sistem estafet dengan embung portabel tidak mampu mendorong air, alternatifnya menggunakan sumur bor,” jelasnya.
Untuk wilayah Pulau Hanaut, titik api masih relatif memungkinkan ditangani dengan sistem estafet karena terdapat sungai yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari lokasi kebakaran.
Sementara itu, di Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU), yang sebelumnya tidak terdeteksi titik api, pada hari ini kembali ditemukan satu titik. Lokasi tersebut berada di sekitar wilayah perusahaan, sehingga koordinasi dengan pihak perusahaan juga akan dilakukan.
Dari Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Sekcam menyampaikan bahwa unsur Muspika terus melakukan penanganan secara maksimal, baik pagi maupun sore hari. Salah satu sasaran utama adalah lahan gambut yang bara apinya masih berada di bawah permukaan.
“Kami kolaborasi dengan unsur Muspika, full day pagi dan sore. Gambut yang sudah menyala menjadi sasaran kami,” ujarnya.
Ia menambahkan, bantuan Koramil TNI juga terus dilakukan. Kehadiran armada water cannon dinilai membantu mempercepat penanganan ketika titik api sulit dijangkau.
Untuk wilayah barat MHU, pihak kecamatan masih melakukan pemantauan bersama perusahaan perkebunan swasta. Koordinasi juga dilakukan melalui grup komunikasi karhutla sehingga perkembangan titik api dapat segera diinformasikan dan ditindaklanjuti.
Di Kecamatan Seranau, kondisi karhutla disebut mulai meningkat. Bahkan, jumlah titik api pada Rabu disebut menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa waktu terakhir, terutama di wilayah perbatasan Kecamatan Seranau dan Pulau Hanaut.
Bupati juga meminta koordinasi diperkuat untuk wilayah utara Kotim. Perusahaan yang berada dekat dengan titik karhutla diminta segera membantu setelah berkoordinasi dengan camat dan Danramil setempat.
Di Bukit Indah Telaga Antang terdapat terdapat titik yang berada dekat kawasan Umbul Lestari, Halikinnor berharap helikopter water bombing yang diusulkan bisa segera tiba, titik-titik yang sulit dijangkau dari darat akan diarahkan untuk mendapat penanganan melalui udara.
Cempaga Hulu, termasuk kawasan Bukit Raya, juga menjadi perhatian. Salah satu lokasi disebut berjarak sekitar 4,4 kilometer dari Sungai Cempaga. Sejumlah perusahaan yang berada di wilayah tersebut diharapkan dapat ikut membantu penanganan. (Nardi)











