PALANGKA RAYA – Kabut asap pekat hingga kini masih menyelimuti Kota Palangka Raya. Kondisi ini mengakibatkan jarak pandang menjadi sangat terbatas, bahkan kualitas udara dilaporkan telah mencapai level berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
Anehnya, fenomena kabut asap yang kian memekat ini terjadi di tengah penurunan jumlah titik api (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lapangan.
Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Agustan Saining, membeberkan alasan di balik fenomena tersebut. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), arah embusan angin memegang peranan besar dalam membawa asap ke wilayah perkotaan.
“Sebenarnya ini dari data BMKG angin itu dari selatan dari bawah dia, dari laut kan. Mungkin dari Pulang Pisau dan Kapuas. Nah angin itu banyak berhenti di sekitar Palangka Raya, Gunung Mas bahkan di Murung Raya itu berasap juga seperti ini,” kata Agustan usai mengikuti rapat di DPRD Kalteng, Kamis, 24 September 2026.
Selain faktor arah angin, karakteristik lahan di Kalteng memperparah situasi ini. Agustan menjelaskan bahwa saat ini jumlah titik kebakaran di permukaan sebenarnya sudah tidak terlalu banyak. Namun, dampak asap tetap pekat karena karakteristik vegetasi tanah di Kalteng didominasi oleh lahan gambut yang sangat luas.
“Jadi kebakaran juga sudah tidak terlalu banyak titik apinya. Tetapi dampak asapnya masih ada.
Katena kita ini 4,6 juta hektar lahan adalah kawasan gambut, di atas padam di bawah (gambut), bara-baranya (api) masih mengeluarkan asap,” jelas Agustan.
Berdasarkan data harian Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalteng per Selasa, 22 September 2026 pukul 18.00 WIB, tercatat 8.093 titik hotspot, dengan 88 kejadian karhutla dan luas area terbakar mencapai195,57 hektare.
Data tersebut dihimpun berdasarkan pemantauan titik panas dari BRIN dan Sipongi serta laporan kejadian dan luas area terbakar dari kabupaten/kota kepada Pusdalops BPB-PK Kalteng.
Sejumlah wilayah tercatat memiliki hotspot cukup tinggi. Pulang Pisau mencatat 2.381 hotspot, disusul Kotawaringin Timur 1.292 hotspot, Seruyan 1.288 hotspot, Kapuas 764 hotspot, Kotawaringin Barat 869 hotspot, dan Katingan 460 hotspot.
Sementara itu, dari sisi kejadian, Kotawaringin Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 18 kejadian dengan luas area terbakar 12,78 hektare.
Kapuas tercatat 13 kejadian dengan luas 31,25 hektare, Murung Raya 11 kejadian dengan luas 10,32 hektare, serta Seruyan 11 kejadian dengan luas 31,71 hektare.
(Syauqi)










