SAMPIT – Kemacetan tak hanya terjadi di jalan raya, tapi juga di jalur air. Puncak arus balik Idulfitri 2025 menimbulkan kemacetan panjang di Terusan Sungai Hantipan, Kecamatan Pulau Hanaut, yang menjadi penghubung antara Sungai Mentaya dan Sungai Katingan.
Seorang warga, Riyadi, mengungkapkan kemacetan parah terjadi pada Rabu, 2 April 2025, tepat di hari ketiga Lebaran. Lonjakan aktivitas kapal yang melintas membuat alur sungai padat dan mengganggu kelancaran perjalanan.
Ia menceritakan, biasanya perjalanan menuju Sampit memakan waktu empat hingga lima jam. Namun pada hari ketiga Lebaran ia harus menempuh perjalanan hingga tujuh jam akibat antrean panjang perahu dan kapal klotok yang memadati sungai.
“Saya berangkat dari kampung sekitar pukul 07.00 WIB kami tiba di Sampit sekitar pukul 14.00, biasanya berangkat jam 07.00 itu sampainya sekitar pukul 11.00 atau setengah 12 siang,” ungkapnya, Jumat 4 April 2025.
Dari video yang beredar di media sosial, terlihat Sungai Hantipan yang lebarnya hanya cukup untuk tiga perahu berjejer mengalami kepadatan lalu lintas air.
Puluhan perahu motor tampak mengantre dengan penumpang yang penuh sesak, menyebabkan kesulitan bagi perahu untuk melintas.
Selain volume kendaraan air yang meningkat, faktor lain yang berpengaruh adalah kondisi sungai yang bergantung pada pasang surut air.
Hal ini menyebabkan pengendara harus menunggu air pasang untuk dapat melintas di Sungai Hantipan sehingga perahu masuk bersamaan.
Kondisi ini menyebabkan keterlambatan perjalanan bagi banyak warga sejumlah desa yang bergantung pada jalur anak sungai yang menghubungkan dua sungai ini sebagai akses utama mereka.
Tidak sedikit dari mereka yang harus bersabar menunggu berjam-jam sebelum akhirnya bisa melanjutkan perjalanan, bahkan mereka bisa terjebak karena kondisi sungai yang surut sehingga harus turun ke air mendorong perahu mereka yang kandas.
Masyarakat berharap adanya pengerukan sungai yang pernah dijanjikan pemerintah provinsi, ataupun akses darat yang bisa menghubungkan Kabupaten Kotim dengan Kabupaten Katingan di sekitar wilayah selatan Kalimantan Tengah.
(Nardi)












