SAMPIT – Kemacetan parah di Sungai Hantipan, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), semakin menjadi sorotan. Jalur sungai vital yang menghubungkan Kotim dan Katingan ini kini menanti aksi nyata dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Ketua Komunitas Peduli Kotim, Audy Valent, menegaskan bahwa kondisi Sungai Hantipan sudah seharusnya diperlebar dan didalami agar dapat kembali berfungsi optimal. Dengan arus transportasi yang semakin padat, perbaikan jalur sungai ini bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak bagi masyarakat dan ekonomi di wilayah pesisir.
“Sungai Hantipan ini bukan hanya jadi lintasan antar dua kabupaten, tapi juga jalur alternatif penting bagi masyarakat saat musim tenggara atau gelombang besar melanda jalur laut,” ujar Audy, Jumat 4 April 2025.
Menurutnya, jalur sungai ini sangat vital bagi arus transportasi dan distribusi barang masyarakat pesisir, terutama saat kondisi laut tidak bersahabat.
Maka dari itu, keberadaan sungai ini bukan hanya soal akses, tetapi juga menyangkut denyut nadi perekonomian masyarakat di wilayah pesisir.
Audy pun menekankan pentingnya keterlibatan pihak-pihak yang berwenang untuk menelusuri persoalan ini.
“Perlu tim investigasi dari Komunitas Peduli Kotim turun ke lokasi, untuk menyampaikan fakta dan data kepada Gubernur. Ini penting untuk membantu gubernur dalam pengawasan serta penanganan sistem transportasi sungai yang sangat dibutuhkan masyarakat antar kabupaten,” tegasnya.
Ia menilai, langkah tersebut sebagai bentuk dukungan agar gubernur bisa melihat langsung kondisi riil di lapangan dan menjadikan ini sebagai prioritas pembangunan.
Diberitakan sebelumnya arus balik mudik Idulfitri 2025 menyebabkan kemacetan parah di Sungai Hantipan, Kecamatan Pulau Hanaut, Kotim, yang menghubungkan Sungai Mentaya dengan Sungai Katingan.
Seorang warga yang mudik, Riyadi, mengatakan waktu tempuh dari Kampung Tengah Katingan ke Sampit molor dari lima jam menjadi tujuh jam pada Rabu, 2 April 2025.
Video yang beredar menunjukkan puluhan perahu motor antre di sungai yang hanya cukup untuk tiga perahu berjejer. Selain volume tinggi, pasang surut air memperparah situasi.
(Nardi)












