SAMPIT – Ketua Komunitas Peduli Kotawaringin Timur (KPK), Audy Valent, angkat bicara terkait pengajuan dana pokok pikiran DPRD Kotim hingga terjadinya insiden pecahnya meja kaca di kantor Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKM PP).
Audy menilai kejadian itu hingga viral hanyalah kesalahpahaman yang terjadi dalam proses penyampaian aspirasi tersebut.
Menurutnya, insiden itu tidak perlu terjadi jika komunikasi antar pihak berjalan dengan baik dan aturan birokrasi dibuat lebih sederhana.
“Itu hanya kesalahpahaman dan kurangnya koordinasi, sehingga terjadi gesekan. Kita berharap ke depan hal seperti ini tidak terulang lagi,” kata Audy, Kamis 10 Juli 2025.
Ia menegaskan bahwa birokrasi yang berbelit sering kali menjadi kendala dalam menyalurkan bantuan bagi pelaku UMKM, terutama yang bersumber dari aspirasi dewan melalui Pokir.
Menurutnya, semangat membantu masyarakat justru terhambat oleh tumpang tindih aturan administratif.
“Yang sangat penting saat ini adalah penyederhanaan aturan, agar jalur birokrasi tidak menjadi penghalang dalam memajukan UMKM di Kotim,” tegasnya.
Semua pihak, baik eksekutif maupun legislatif, agar tetap mengedepankan komunikasi yang sehat dan saling menghargai tugas serta fungsi masing-masing.
Dirinya menambahkan bahwa UMKM di Kotim memerlukan dukungan konkret dari semua pemangku kepentingan, dan semestinya tidak dibuat kesulitan hanya karena interpretasi berbeda terhadap aturan hibah barang.
Diberitakan sebelumnya Hairis Salamad, Anggota DPRD Kotim dari Fraksi PAN dapil 5, menjelaskan bahwa insiden pecahnya meja kaca di kantor Dinas Koperasi UKM PP Kotim pada Selasa 8 Juli 2025 murni terjadi karena ketidaksengajaan. Ia menegaskan tidak ada tindakan mengamuk atau marah seperti yang beredar di media sosial.
Menurut Hairis, saat dirinya sedang berdiskusi dan mempertanyakan realisasi Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) yang ditujukan untuk bantuan alat masak usaha katering bagi ibu-ibu di Parenggean, ia secara refleks menekan ujung meja kaca. Karena memakai cincin besar, kaca tersebut pecah. Ia menyebut kejadian itu spontan dan tidak ada unsur kesengajaan.
Hairis menyayangkan pemberitaan yang menyudutkan dirinya dan menilai insiden tersebut terjadi akibat miskomunikasi serta tidak jelasnya penjelasan dari pihak dinas terkait aturan teknis pencairan bantuan Pokir. Padahal dirinya murni ingin memperjuangkan bantuan untuk masyarakat Parenggean yang jauh datang ke Sampit. (Nardi)












