PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) menunjukkan keseriusannya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, khususnya pengembangan investasi sapi perah.
Melalui kolaborasi lintas sektor, pemetaan dan pengusulan lahan terus diperluas untuk mendukung keberlanjutan program tersebut.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam pertemuan antara Pemprov Kalteng dan Direktorat Jenderal (Ditjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI di Ruang Rapat Bajakah, Kantor Gubernur Kalteng, Jumat pagi, 18 Juli 2025.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng, Agustan Saining, menyampaikan bahwa pihaknya siap menindaklanjuti lahan yang telah disurvei, serta mendukung penambahan lahan baru sebagai bentuk kontribusi terhadap program ketahanan pangan nasional.
“Terdapat usulan tambahan dari Kabupaten Murung Raya seluas 12.928 hektar dan Kotawaringin Timur seluas 5.061 hektar,” ujar Agustan.
Ia mendorong Ditjen PKH untuk segera melakukan koordinasi dengan Kementerian Kehutanan agar rencana investasi dapat segera direalisasikan.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Kalteng, Rendy Lesmana, menyebut bahwa survei awal untuk kegiatan investasi sapi perah telah dilakukan sejak Oktober 2024.
“Koordinasi teknis juga sudah berjalan dengan Dinas Kehutanan Provinsi serta dinas terkait di Kabupaten Barito Selatan dan Barito Utara,” ujar Rendy.
Ia menjelaskan bahwa luasan lahan yang sudah diusulkan sebelumnya mencapai 18.050 hektar, dengan rincian 9.405 hektar di Barito Selatan dan 8.645 hektar di Barito Utara.
Lahan ini diperoleh melalui proses overlay atau tumpang susun pemetaan kawasan oleh Dinas Kehutanan.
“Investasi ini selaras dengan program unggulan Gubernur Kalimantan Tengah yang tertuang dalam visi-misi. Fokusnya adalah menciptakan ekosistem produksi yang berorientasi ekspor, namun tetap memenuhi kebutuhan dalam negeri,” tambah Rendy.
Dari sisi pemerintah pusat, Direktur Pakan Ditjen PKH, Tri Melasari, menjelaskan bahwa strategi jangka menengah Kementan saat ini difokuskan pada pengembangan investasi sapi indukan, bukan penggemukan semata.
“Kami tidak mengalokasikan anggaran pengadaan sapi tahun ini, karena fokus diarahkan ke sektor swasta dan investor. Kalimantan Tengah punya potensi luar biasa yang harus kita fasilitasi bersama,” ucap Tri.
Ia mengungkapkan bahwa Indonesia masih defisit dalam pasokan protein hewani, dengan kekurangan daging sapi sebesar 52 persen dan pasokan susu dalam negeri yang tertinggal 79 persen dari kebutuhan nasional.
“Kami ingin program ini berkelanjutan, bukan sekadar proyek jangka pendek. Karena itu, pengembangan sapi indukan adalah kunci,” tegas Tri.
Dengan dukungan dari sektor kehutanan dan pertanian, Kalteng semakin siap menjadi bagian penting dalam pembangunan lumbung protein hewani nasional yang mandiri dan berkelanjutan.
(Sya'ban)












