Ramadhan, Amal dan Kesalehan

Oleh A.R. Asrari Puadi

Tidak terasa, Ramadhan yang agung nan berkah ini akan pergi meninggalkan kita. Segala tindak tanduk yang dilakukan selama ber-ramadhan menjadi catatan dan bekal yang menjadi nilai atas ramadhan kita di hari ini di yaumil akhikelak. Seyogyanya ramadhan tidaklah hanya meninggalkan pelajaran menahan lapar dan dahaga, namun lebih dari itu ramadhan juga seyogyanya menjadi suatu pelajaran penting dalam konteks kehidupan berpolitik, lebih-lebih bagi kita yang berada di dan Timur khususnya yang dalam hitungan beberapa bulan kedepan akan melaksanakan pergantian tampuk kepemimpinan atau pemilihan kepala daerah (PIlkada) langsung, dimana lewat hajatan ini nasib dan kemajuan daerah kita kedepan ditentukan.

 sebagai ladang amal

disebutkan sebagai seni untuk meraih kekuasaan, dalam perspektif sempit lagi dicitrakan sebagai bentuk perilaku keduniawian, sehingga selalu berkaitan dengan pusaran harta, kekuasaan dan kedudukan yang kemudian membuat banyak orang memandang sebagai jalan yang kurang baik dan dihindari dalam berkehidupan.

Pandangan di atas memang tak serta merta muncul tanpa sebab musabab, cara-cara masuk ke dalam dengan cara yang kurang terhormat membuat citra semakin kurang baik di mata masyarakat, sebut saja agenda menggunakaan pemikat uang sebagai penarik dukungan yang terjadi marak hampir di semua daerah pemilihan. Namun pandangan ini harusnya juga tak serta merta menyurutkan kesempatan bagi  untuk mendapatkan citra yang baik dimata masyarakatMengutip apa yang pernah diucapkan Anies Baswedan bahwa “ menjadi kotor bukan karena adalah sesuatu yang terbentuk sebagai produk kotor, namun terlebih karena banyaknya orang-orang baik memilih diam, mendiamkan dan enggan masuk terlibat langsung dalam , ibarat kata berharap besar terhadap perubahan namun enggan terlibat menjadi bagian perubahan.

baca juga ...  Anda Perlu Coba, Tips Olahraga Ini Saat Puasa

Bukankah kemudian sering kita mendengarkan dalam ceramah-ceramah, kultum, khutbah dan bentuk verbal syiar lainnya bahwa disebutkan setiap manusia di muka bumi ini mempunyai konsekuensi langsung sebagai khalifah sebagaimana terdapat dalam beberapa ayat di dalam al-Qur'an yang dapat dimaknai bahwasannya menjadi pemimpin adalah sebuah bentuk yang diamanahkan langsung oleh Allah kepada kita sehingga kegiatan memimpin merupakan perihal wajib yang harus dilakukan oleh manusia sebagai bentuk ketaatan padaNya.

Dengan tugas khalifah yang diemban tadi, maka mustahil kiranya tidak akan bersentuhan dengan kegiatan yang disebut Hal ini menjadikan sebagai salah satu instrumen utama yang harus menjadi kompetensi yang dikuasai seorang khalifah.  pula menjadi sesuatu yang mau tidak mau diubah dari suatu kegiatan yang dicitrakan negatif menjadi sesuatu kegiatan yang mempunyai citra positif. Usaha-usaha ini juga lazimnya tidak hanya sekadar kemudian selesai pada tataran memandang sebagai sebuah kebaikan, namun juga ditunjukkan dengan jalan menjadi khalifah yang mengerti dengan dan menjalankannya dengan kebaikan  pula. Sehingga bukan menjadi ladang untuk memperkaya diri dengan materi atau bentuk-bentuk duniawi lainnya namun menjadikan  sebagai ladang untuk memperkaya amal sebagai jalan mencapai keridaan sang pencipta.

Untuk mencapai tingkatan  yang ditujukan sebagai ladang amal maka setidaknya kita dapat berkaca kepada beberapa prinsip dan substansi didalam ramadhan itu sendiriSalah satunya adalah perihal subtansi menahan hawa dan nafsu.

Selama satu bulan kita diwajibkan untuk menahan hawa dan nafsu dengan baik maka begitu pula dengan berpolitik, berpolitik yang baik akan sangat tahu bahwa ada batasan-batasan yang harus ditaati, salah satu contohnya menahan godaan untuk tidak menerima bujuk rayuan terhadap tindakan korupsi baik itu korupsi yang berupa materil ataupun non materil seperti waktu, maka khalifah yang baik akan tau dan memprioritaskan waktunya untuk memenuhi janji-janji  dengan tepat sasaran dan tepat waktu.

baca juga ...  Ketua DPRD Kobar: “Miris Dua Stadion Sering Dipake Mojok"

Kesalehan bukan Kosmetika

Selain perihal menahan hawa dan nafsu ramadhan tentu mengajarkan banyak hal bagi kita tentang bagaimana menyoal kesalehan, baik itu kesalehan yang bersifat pribadi maupun kesalehan yang sifatnya adalah sosial yang kemudian kita kenal dengan sebutan ibadah Mahdhah yang menghubungkan secara vertikal antara kita dengan Tuhan secara langsung dan juga ibadah Ghairu mahdhah yaitu hubungan horizontal yang merupakan bentuk lain dari ketaatan, dengan penekanan kemasan pada hubungan kita sebagai sesama manusiadengan manusia lainnya. Adapun kesalehan itu sendiri dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan sebagai suatu bentuk ketaatan (kepatuhan) dalam menjalankan ibadah serta kesungguhan menunaikan ajaran agama, yang mana tercermin dalam perilaku kehidupan setiap pelakunya.

Terkait dengan hal di atas, dalam kehidupan berpolitik Ramadhan harusnya memberi pelajaran banyak tentang bagaimana menjadi saleh dengan jalur atau kemudian dapat kita sebut dengan terminologi kesalehan .

Saleh tentu sebuah predikat yang bukanlah sekedar kosmetik, yang kemudian menjadi instrumen estetika temporer belaka. Figur-figur yang saleh bukanlah figur yang kemudian sibuk mendandani dirinya dengan kosmetik pencitraan, bukanlahlah pula yang sibuk hadir didepan rakyatnya dengan perangkat kereligiusan dan keberpihakan sementara.Sehingga kosmetika tentu bukanlah ciri kesalehan .

Kesalehan sangatlah tergantung dengan bagaimana keadaaan hati para pelaku . Sebagaimana Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kepada kita bahwa ada segumpal daging dalam tubuh manusia, jika itu baik maka pikiran, ucapan, dan tindakannya akan baik. Segumpal daging itulah yang disebut hati yang mana dalam bernegara dan berbangsa sebagai bentuk dari kegiatan  sangat bergantung pada hati sang pemimpinnya. Maka dapat dipastikan kalau hati sang pemimpin baik, akan baiklah seluruh pikiran dan gerak langkah dari apa yang dipimpinnya, dalam hal ini ialah daerah yang menjadi tanggung jawab kepemimpinannyaKejernihan dan kebaikan hati pemimpin yang mensejahterakan rakyatnyainilah yang harusnya ditonjolkan, bukan malah sibuk mencari panggung sebagai pengakuan atas kekuasaan yang dimilikanya dan upaya kosmetika sebagaimana diulas diatas tadi.

baca juga ...  BRIT Kalteng Ajak Tolak Politik Uang

Giliran orang baik untuk berpolitik

Ada baiknya kemudian banyak orang-orang baik memilih masuk dan terlibat dalam ,entah dalam konteks terlibat sebagai aktor langsung ataupun terlibat sebagai orang yang ikut mengantarkan orang-orang baik masuk ke dalam . Karena dimensi kesalehan bukanlah kemudian hanya berlaku pada saat di tempat ibadah, berpuasa ataupun kegiatan agama lainnya, namun juga berlaku dalam dimensi .

Menjadi aktor yang hadir dengan kesalehan adalah bentuk lain dari internalisasi ajaran-ajaran agama yang dapat menjadi ladang amal yang berbuah nilai kebaikan bagi timbangan di akhir kelak. Di sisi lain sembari kita berdo'a bersama semoga kedepan siapapun pemimpin yang terpilih mampu menjadi aktor yang mengedepankan kesalehan politiknya, sehingga tidak hanya menjadi pemimpin yang dicintai rakyatnya namun juga menjadi pemimpin yang dicintai oleh-Nya.

A.R. Asrari Puadi

Mahasiswa Universitas Airlangga

Penggagas halo-borneo.com

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer
error: Content is protected !!