JAKARTA— Di tengah hiruk-pikuk gedung parlemen yang megah, sosok F. Alimudin Kolatlena tampak sederhana namun tegas. Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Gerindra, wakil rakyat asal Maluku ini tak pernah lelah menyuarakan isu-isu sosial yang menyentuh akar rumput masyarakat.
“Komisi VIII DPR RI akan terus mengawal implementasi program sekolah rakyat di berbagai daerah agar benar-benar memberi manfaat nyata bagi anak-anak bangsa, terutama mereka yang kurang mampu,” ujarnya dalam sebuah pertemuan baru-baru ini di Sukabumi, Jawa Barat.
Kata-kata itu bukan sekadar retorika, bagi Alimudin, ini adalah komitmen pribadi yang lahir dari pengalaman hidupnya di tanah kelahiran, Maluku.
Alimudin Kolatlena, lahir di sebuah desa kecil di Maluku, ia tumbuh di tengah keterbatasan akses pendidikan dan ekonomi yang menjadi realitas bagi banyak warga kepulauan.
Sebelum terjun ke DPR RI periode 2024-2029 mewakili Dapil Maluku, Alimudin pernah menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Maluku dari 2019 hingga 2024. Pengalamannya di tingkat daerah membuatnya paham betul bagaimana kebijakan pusat sering kali tersandung di lapangan.
“Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak di Maluku kesulitan sekolah karena jarak dan biaya. Itu yang mendorong saya untuk terus mendorong program seperti sekolah rakyat,” beber Kolatlena, Jumat 26 September 2025.
Program Sekolah Rakyat sendiri adalah inisiatif ambisius pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Diluncurkan pada Juli 2025 sebagai pilot project nasional, program ini menargetkan anak-anak dari keluarga tidak mampu, anak jalanan, dan mereka yang putus sekolah akibat kemiskinan.
Tak hanya pendidikan formal, sekolah rakyat menawarkan model berasrama yang lengkap dengan pembinaan karakter, pelatihan keterampilan, dan dukungan nutrisi. “Ini adalah harapan baru untuk memutus rantai kemiskinan,” kata Alimudin, mengutip trilogi nilai program, memuliakan anak, menjangkau yang tak terjangkau, dan mewujudkan yang mustahil.
Menurut data Kementerian Sosial, program ini telah menjangkau ribuan anak di berbagai daerah, dengan fokus pada pendidikan inklusif yang gratis dan berkualitas.
Salah satu momen krusial dalam pengawalan Alimudin terhadap program ini adalah kunjungannya ke Sekolah Rakyat Mandiri Pintar (SRMP) 7 di Sukabumi, Jawa Barat, awal September lalu. Di sana, ia tak hanya meninjau fasilitas, tapi juga berdialog langsung dengan siswa, guru, dan pengelola.
“Proses belajar di sekolah rakyat harus sesuai harapan Presiden: tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga membangun karakter bangsa,” tegasnya saat itu.
Kunjungan ini bagian dari agenda Kunjungan Spesifik (Kunspek) Komisi VIII DPR RI, yang bertugas mengawasi urusan agama, sosial, dan pemberdayaan anak. Alimudin melihat bagaimana anak-anak yang dulunya putus asa kini bersemangat belajar, meski tantangan seperti keterbatasan infrastruktur masih ada.
Namun, perjalanan program sekolah rakyat bukan tanpa hambatan. Di beberapa daerah, seperti Tangerang Selatan, ada laporan mundurnya siswa karena penyesuaian dengan sistem berasrama yang ketat.
Alimudin mengakui hal ini sebagai pelajaran berharga. “Kita harus terus evaluasi. Komisi VIII akan mendorong pemerintah untuk meningkatkan fasilitas dan pelatihan guru, agar program ini benar-benar berkelanjutan,” ujarnya.
Kolatlena menekankan sinergi dengan pemerintah daerah, seperti yang ia lakukan di Maluku dengan mendukung pembangunan gedung balai nikah dan manasik haji, serta gerakan pangan murah untuk mendukung ketahanan keluarga miskin.
Bagi Alimudin, sekolah rakyat bukan sekadar kebijakan, ini adalah investasi untuk Indonesia Emas 2045. “Anak-anak ini adalah masa depan kita. Jika mereka tak mendapat kesempatan, bagaimana bangsa ini maju?” imbuh Kolatlena.
Di akhir kunjungannya ke Sukabumi, Alimudin berpesan kepada para siswa agar belajar dengan sungguh-sungguh.
“Negara hadir untuk kalian,” pesan Kolatlena.
Kata-kata itu menggema, mengingatkan bahwa di balik debat politik, ada harapan nyata bagi anak bangsa. Komisi VIII DPR RI terus bekerja agar program ini tak hanya jadi janji, tapi realitas yang mengubah hidup.
(adista)












