SAMPIT – Ketua Komunitas Peduli Kotawaringin Timur (KPK) Audy Valent menyoroti fenomena kepala desa yang jarang berada di kantor namun sering terlihat nongkrong di tempat hiburan malam. Menurutnya, kebiasaan tersebut patut dicurigai sebagai indikasi penggunaan narkoba.
“Saya lebih curiga lagi dengan kades yang jarang ngantor tapi suka keluyuran malam, karaoke dan dugem. Itu patut dicurigai pengguna narkoba,” tegas Audy, Jumat 21 November 2025.
Ia meminta agar tes urine bagi seluruh kepala desa di Kotim tidak lagi ditunda. Menurutnya, semakin lama pemeriksaan digelar, semakin besar peluang bagi oknum kades mencari cara untuk menghilangkan jejak narkotika dalam tubuh mereka.
“Jangan beri mereka waktu untuk mencari pengobatan alternatif yang bisa menghilangkan kandungan narkotika dari darah dan urine. Pemeriksaan harus cepat, tegas, dan tanpa kompromi,” ujarnya.
Audy juga mengusulkan agar pemeriksaan dilakukan secara jemput bola apabila ada kades yang mangkir dengan berbagai alasan.
Hal itu dinilai penting untuk memastikan pemeriksaan berjalan adil dan tidak ada celah untuk menghindar.
Sebelumnya, hanya 58 dari 168 kades yang hadir mengikuti sosialisasi anti narkoba sekaligus tes urine di DPRD Kotim. Dari pemeriksaan itu, tiga kades diketahui positif.
Melihat kondisi tersebut, Audy mendorong BNNK Kotim segera menggelar tes gelombang kedua secara menyeluruh agar seluruh kades mengikuti pemeriksaan tanpa terkecuali. Ia menegaskan bahwa kades sebagai ujung tombak pemerintah di desa wajib memberikan contoh yang baik kepada masyarakat.
Diberitakan sebelumnnya hasil tes narkoba di DPRD Kotim ada tiga kades dan dua ASN yang positif narkoba, BNNK Kotim menindaklanjuti hasil tersebut dan dari keterangan oknum kades yang positif menyampaikan mereka menggunakan doping dekstro untuk pereda rasa nyeri. Sementara satu oknum ASN indikasi pengguna sabu dalam waktu yang lama. (Nardi)












