SAMPIT – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Camba, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), melalui operasi water bombing belum dapat dilaksanakan akibat kabut asap.
Helikopter yang telah diberangkatkan dari Palangka Raya terpaksa kembali karena kondisi jarak pandang tidak memenuhi syarat keselamatan penerbangan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan kebakaran di Desa Camba telah berlangsung selama tiga hari terakhir dan berada di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
“Tadi kami sudah mendapatkan persetujuan untuk water bombing di Desa Camba, tetapi karena visibility dan keamanan operasi, akhirnya helikopter kembali lagi ke Palangka Raya,” kata Multazam, Rabu 5 Agustus 2026.
Ia menjelaskan hingga kini belum ada kepastian apakah operasi water bombing akan kembali dilaksanakan atau ditunda hingga kondisi memungkinkan.
“Sampai sekarang kami belum mendapat informasi dari posko provinsi apakah operasi dilanjutkan atau sementara di-hold sampai situasi memungkinkan,” ujarnya saat siang hari.
Berdasarkan pemantauan BPBD pada Selasa 4 Agustus 2026, kawasan Desa Camba memiliki sekitar 20 titik hotspot dalam satu hamparan yang masih aktif terbakar. Medan menuju lokasi cukup berat karena hanya dapat dilalui sepeda motor, dilanjutkan berjalan kaki sekitar tiga kilometer, sementara sumber air juga sulit dijangkau.
Meski demikian, BPBD bersama TNI, Polri dan Manggala Agni tetap mengerahkan personel darat untuk melakukan pemadaman.
“Di sisi darat kami mengirimkan satu regu handal. Mudah-mudahan bisa membantu pemadaman walaupun kontribusinya mungkin tidak sebesar water bombing,” katanya.
Menurutnya, justru pemadaman melalui jalur darat selama ini memberikan kontribusi besar dalam mengendalikan sejumlah titik kebakaran di Kotim, seperti di Desa Eka Bahurui, wilayah Kuda Marleh, hingga kawasan Amin Klaru.
“Pasukan darat inilah yang selama ini berkontribusi besar terhadap penyelesaian kebakaran,” ujarnya.
Multazam juga mengimbau para petani maupun pemilik kebun yang memiliki sumur bor agar memanfaatkannya untuk melakukan pembasahan lahan secara mandiri menggunakan jaringan pipa guna mencegah api semakin meluas.
“Kami menyarankan kalau di daerah kebun masih ada sumur bor, agar dimanfaatkan untuk pembasahan lahan. Semoga kita semua tetap dalam keadaan sehat walafiat,” pungkasnya. (Nardi)












