SAMPIT – Kabut asap yang mulai menyelimuti Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Rabu 5 Agustus 2026 berdampak pada menurunnya kualitas udara dan jarak pandang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan kondisi kualitas udara saat ini belum direkomendasikan untuk aktivitas luar ruangan.
BPBD menerima data konsentrasi partikulat PM2,5 mencapai angka 398 pada pukul 06.00 WIB. Nilai tersebut masuk kategori berbahaya bagi kesehatan meski hanya terjadi dalam waktu tertentu.
“Tadi pagi kami melihat data, angka PM2,5 mencapai 398 pukul 06.00. Kalau dikategorikan, sebenarnya situasi itu sudah berbahaya,” ucapnya.
Ia menjelaskan masyarakat yang memiliki penyakit penyerta seperti asma maupun gangguan pernapasan lainnya diminta lebih berhati-hati. Apabila terpaksa beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker sangat dianjurkan.
“Jangan beraktivitas diluar ruangan terutama masyarakat yang memiliki komorbid, asma, dan segala macam,” ujarnya.
Namun kondisi mulai membaik setelah matahari terbit dan kecepatan angin meningkat sehingga kabut asap berangsur menipis.
“Beberapa saat kemudian, ketika matahari mulai terbit dan angin meningkat, kondisi itu hilang. Tetapi bukan berarti persoalannya selesai. Besok kemungkinan bisa berulang lagi dan ini yang harus kita antisipasi dalam jangka panjang,” tegasnya.
Memburuknya kualitas udara dipicu kebakaran hutan dan lahan yang terjadi beberapa waktu belakangan, dalam sehari hingga belasan kejadian karhutla harus ditangani petugas yang terbatas.
Sebagian area juga sudah menyala berhari-hari karena kondisi Medan yang sulit dijangkau, salah satunya yang terjadi di Desa Camba. Wilayah tersebut bahkan menjadi penyumbang titik panas terbanyak di Kotim.
“Desa Camba itu kontribusi hotspot-nya memang tertinggi berdasarkan data BMKG,” katanya.
Ia mengungkapkan, saat rapat koordinasi posko karhutla tingkat provinsi pada Selasa 4 Agustus 2026, Kotim tercatat sebagai daerah dengan jumlah hotspot tertinggi di Kalimantan Tengah. (Nardi)












