SAMPIT – Salah satu bangunan Pasar Tradisional di Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ambruk diterpa angin kencang, Minggu (30/12/2018) sore. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Ambruknya bangunan Pasar Pelangsian ini, hampir sama persis seperti kejadian di Pendopo Betang Pariwisata di Ujung Pandaran.
Saat kejadian, bangunan tiba-tiba runtuh dan membuat 14 pedagang sayur yang sedang menggelar lapaknya harus berhamburan keluar dan menyelamatkan diri ke bangunan yang lain. Meski berkonstruksi beton, bangunan ini tetap roboh diterpa angin yang sangat kencang. “Beruntung sebelum ambruk pedagang dan pembeli sudah menyelamatkan diri keluar dari tempat itu dan berteduh di bangunan disebelahnya,” kata Marbu, pengelola pasar Pelangsian.
Menurut Marbu, angin kencang yang datangnya tiba-tiba menerpa kawasan tersebut membuat bangunan yang semula masih hanya terpasang atap, tanpa dinding, ini pun luluh lantak. Dari 6 bangunan pasar yang berada didepan pelabuhan Pelangsian ini, satu bangunan roboh rata dengan tanah, satu bangunan atapnya yang terbuat dari seng rusak, sedangkan 4 bangunan lainnya tetap kokoh. Sementara, Anang, seorang warga yang berada di ditempat saat kejadian menuturkan, angin kencang menerjang kawasan itu sekitar jam 14.30 wib.
Dirinya bersama pedagang dan warga lainnya melihat angin yang berputar dari arah barat.”Kejadiannya sebelum hujan. Angin bertiup kencang kayak puting beliung,berputar-putar sekitar 15 menit. Merasa bangunan akan roboh, spontan kami berhamburan keluar dari bangunan pasar menyelamatkan diri, termasuk para pedagang juga sempat menyelamatkan dagangannya sebelum bangunan ini roboh.” jelasnya.
Camat Mentawa Baru Ketapang, Sutimin, saat turun langsung kelokasi kejadian, didampingi Kaur Pembangunan Desa Pelangsian Hendri mengungkapkan, pihaknya sedang mendata kerusakan yang ditimbulkan. Meski robohnya bangunan pasar tradisional tersebut merupakah musibah. pihaknya bersyukur peristiwa itu tidak menimbulkan korban jiwa. Dirinya berharap robohnya bangunan pasar ini tidak mengganggu aktivitas jual beli di pasar tradisional tersebut.
“Dari laporan pengelola dan staf kantor desa bangunan ini berdiri sekitar tahun 2015 lalu. Didalamnya dapat diisi 14 pedagang lesehan. Untuk itu kami akan segera berkoordinasi dengan Dinas terkait untuk mencari jalan keluar agar tidak mengganggu aktivitas di pasar tradisional ini” pungkasnya.
(jun/beritaampit.co.id)











