PEKANBARU – Mendekati Idul Fitri 1442 Hijriyah para perajin rotan di kota Pekanbaru sedikit bisa tersenyum. Mereka mengaku permintaan kerajang parsel mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.
Seperti yang dikatakan Jon Hendri, perajin rotan di Jalan Yos Sudarso, Kota Pekanbaru, bahwa pembeli keranjang parsel mengalami peningkatan di saat kerajinan rotan semakin sulit bertahan.
Bukan saja akibat pandemi Covid-19, turunnya permintaan kerajinan dari bahan rotan juga dikarenakan harga bahan baku rotan yang terus naik, sementara perajin tidak bisa begitu saja menyesuaikan harga. Untuk satu keranjang parsel dihargai Rp15 ribu hingga Rp35 ribu tergantung ukurannya.
“Permintaan parsel ada naik sekitar 15 persen dari tahun lalu. Terpaksa kita mengakali dengan menghemat bahan baku, rotan kita belah dua untuk membuat keranjang parsel,” katanya, Selasa 27 April 2021.
Sementara Dina, perajin di toko Rotan Kirana, mengatakan, pemesan keranjang parsel tahun ini lebih banyak dari luar Kota Pekanbaru dan sebagian besar konsumennya adalah pengelola toko serba ada, pengusaha parsel, dan sebagian kecil pembeli pribadi.
Hingga pekan kedua bulan Ramadhan, dikatakan sudah sekitar 800 keranjang parselnya telah laku. “Pembeli banyak dari Tembilahan, Bengkalis, dan Pekanbaru ada juga tapi dari luar kota lebih banyak,” ujarnya.
Meski ada sedikit peningkatan penjualan, Dina mengatakan tidak berani membuat terlalu banyak keranjang parsel. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya ia berani membuat hingga 1.000 keranjang lebih, karena permintaan cukup tinggi.
“Tapi sejak tahun lalu tidak berani stok barang banyak karena harga rotan naik, belum lagi ada pandemi,” ujarnya.
Akibat pandemi, lanjutnya, pekerjanya yang lama terpaksa diberhentikan dan semua produksi kerajinan rotan dikerjakan oleh keluarganya. Ia mengakui harga bahan baku rotan yang tinggi makin menyulitkan perajin.
Harga rotan bulat untuk keranjang parsel yang sebelumnya Rp2.500 kini sudah Rp3.000 per batang. Sedangkan rotan tipis yang sebelumnya Rp750 ribu per bal isi 25 kilogram, kini mencapai Rp810 ribu. “Kita hanya bisa bertahan, tak bisa untung besar,” ujarnya. Demikian dikutip dari Antara.
(BS-65/beritasampit.co.id)











