SAMPIT – Siam epang merupakan salah satu jenis beras lokal terbaik yang dimiliki Kabupaten Kotawaringin Timur. Namun sangat disayangkan meski sebagai wilayah penghasil, faktanya harga jual beras tersebut masih tinggi dan juga sulit didapatkan oleh masyarakat Kotim.
Beras dengan jenis pera ini juga banyak peminatnya, terutama dari Kalimantan Selatan, dan juga Kabupaten lainnya di Kalimantan Tengah.
Mereka membeli dengan jumlah besar berupa gabah, dan kemudian diproduksi sendiri diolah menjadi beras untuk dijual secara bebas. Lucunya lagi beras itu dijual lagi Kotim, yang pastinya dengan harga yang cukup mahal.
Kepala Desa Lempuyang Muksin, mengungkapkan siam epang untuk wilayah Kotim sebenarnya mencukupi, namun akibat petani kesulitan dalam pemasaran menjual keluar, sehingga banyak tengkulak luar daerah yang masuk khususnya ke wilayah Desa Lempuyang.
“Beginilah cara mereka berbisnis, peredaran beras Lempuyang kembali lagi ke Kotim. Kami kemarin sempat berbincang pada saat pertemuan di Provinsi dari salah satu pejabat dari Kabupaten Pulang Pisau yang mengatakan selama ini beras yang masuk ke Kotim itu adalah beras Lempuyang yang mereka proses di Pulang Pisau dan dikembalikan lagi dijual di Kotim,” jelas Muksin
“Kata pejabat Pulang Pisau itu kepada kami, mohon maaf Pak Kades bahwasanya yang selama ini gabah yang kami terima dari Kotim kami kembalikan lagi berasnya ke Kotim. Itu permasalahannya yang harus cepat kita atasi,” sambungnya.
Muksin berharap kedepannya Pemerintah Kabupaten benar-benar serius membangun Pabrik Rice Milling Unit (RMU) di Desa Lempuyang, yang manfaatnya sangat penting menekan pada tengkulak yang kerap beroperasi di wilayah Lempuyang salah satu Desa di Kecamatan Teluk Sampit.
“Adanya RMU kedepannya, harapan kita penghasilan petani yang ada di wilayah Kotim akan bisa mampu untuk memberi kepada wilayah kita sendiri,” pungkasnya. (ilm)











