NANGA BULIK – Festival Babukung yang menjadi event tahunan Kabupaten Lamandau tahun ini yang telah dilaksanakan. Festival Babukung 2023 ini akan mulai digelar, Senin 7 Agustus 2023.
Babukung sejatinya adalah ritual adat kematian bagi masyarakat Hindu Kaharingan. Sehingga pelaksanaannya tidak boleh sembarangan.
Babukung hanya boleh dilakukan jika ada warga yang meninggal, dengan tujuan mengantarkan bantuan dan memberikan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Namun, dengan diangkatnya Babukke dalam satu wadah yakni Festival, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamandau ingin lebih mengangkat nilai seni budayanya agar lebih dikenal luas. Sebab itu, sejak 2014 lalu Pemkab Lamandau menjadikan Festival Babukung sebagai agenda resmi tahunan.
Bahkan, sejak beberapa tahun terakhir Festival Babukung telah masuk ke dalam 1 dari 100 Kalender Event Nusantara (KEN) milik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.
Karenanya, sebelum gelaran Festival Babukung dimulai, akhir pekan tadi Pemkab Lamandau melalui Dinas Pariwisata (Dispar) setempat melaksanakan ritual pamitan. Tujuannya agar selama pelaksanaan Festival Babukung berjalan lancar tanpa halangan.
“Supaya tidak ada musibah dalam pelaksanaannya, hari ini kita melaksanakan ritual adat padah pamit. Untuk meminta ijin kepada leluhur agar selama pelaksanaan Festival Babukung seluruh peserta diberi keselamatan dan kelancaran,” ungkap Plt Kadis pariwisata, Susana Sriharti Sahada. Senin 7 Agustus 2023.
Di tempat yang sama, Ketua DAD kecamatan Bulik, Biris menjelaskan, dalam pelaksanaan Festival Budaya Babukung ini perlu kesepakatan bersama dari para tetua dan tokoh adat.
Sebab dalam festival ini tidak ada mayat atau kematian, tapi ada ribuan orang menggunakan topeng Bukung dan menari bersama demi pelestarian adat budaya.
“Sangat penting untuk kita lakukan ritual, agar para leluhur memberikan ijin dan merestui niat baik kita yang melakukan ritual adat Babukung ini demi menggali budaya dan melestarikan adat istiadat, meskipun tidak ada mayat.
Maka kita lakukan pemasangan ancak, memotong ayam dan memberikan sesajian, kita berdoa bersama agar dalam pelaksanaan nanti bisa berjalan lancar, semoga tidak ada musibah,” jelasnya.
Pelaksanaan ritual meminta pamit kepada leluhur yang dilaksanakan di halaman pasar induk Nanga Bulik ini dilakukan oleh Damang dan mantir se-Kecamatan Bulik, serta para tokoh adat.
Diawali dengan pembacaan doa yang dirapal oleh masing-masing mantir adat, kemudian penaburan beras kuning, penyembelihan ayam berwarna hitam dan pemasangan ancak atau peganjingan (wadah dari bambu berisi sesajen) di pinggir lapangan. (Andre)











