Perpisahan Sekolah: Antara Tradisi dan Beban Ekonomi

SETIAP akhir tahun ajaran, kelulusan siswa seharusnya menjadi momen syukur sederhana, penuh makna. Namun, di banyak daerah seperti Kabupaten , tradisi ini berubah menjadi ajang seremoni mewah yang justru menambah beban di pundak orang tua.

Tak sedikit warga mengeluhkan biaya wisuda dan perpisahan yang membengkak hingga ratusan ribu rupiah. Ironis, di tengah semangat pendidikan untuk membebaskan, justru muncul tekanan ekonomi yang memperlebar jurang kesenjangan. Alih-alih menjadi perayaan sederhana atas perjuangan siswa, kelulusan kini terasa lebih seperti pameran gengsi.

Pemerintah sejatinya sudah memberi sinyal kuat: hentikan seremoni bergaya wisuda mahasiswa untuk anak-anak TK, SD, hingga SMA. Tapi tanpa pengawasan ketat dan kesadaran bersama, imbauan itu hanya akan menjadi angin lalu.

Sudah saatnya semua pihak, terutama sekolah dan komite, mengembalikan makna kelulusan kepada hakikatnya: syukur, sederhana, dan tak membebani.

Namun, lemahnya pengawasan dan mungkin juga budaya “gengsi” di tingkat sekolah dan orang tua, membuat imbauan itu sering hanya menjadi formalitas di atas kertas.

Perlu disadari, kebanggaan atas pencapaian akademik seorang anak tidak diukur dari mahalnya toga, dekorasi balon, atau pesta megah.

Penghargaan terbaik datang dari keberhasilan pendidikan itu sendiri, kemampuan anak memahami ilmu, membentuk karakter, dan siap menghadapi jenjang berikutnya.

Saatnya sekolah, komite, dan orang tua duduk bersama dengan kesadaran baru: kelulusan adalah tentang masa depan, bukan tentang seremoni.

Jika tetap ingin menggelar perpisahan, buatlah acara yang sederhana, inklusif, dan berfokus pada nilai, bukan gengsi.

Karena pada akhirnya, yang dikenang anak-anak kita bukan pesta mahal itu, melainkan pengalaman belajar dan dukungan tulus dari keluarga serta gurunya.

(Andre)

baca juga ...  Peringati 63 Tahun Desa Kubung, Pemkab Lamandau Tekankan Kolaborasi dan Inovasi
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!