SAMPIT – Limbah rumah tangga seperti Jelantah atau minyak goreng bekas yang sering dibuang begitu saja dan kerap menimbulkan masalah pencemaran lingkungan, ternyata masih bisa bermanfaat dan bernilai ekonomis.
Melalui ide-ide kreatif yang luar biasa dari para siswa dan guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur ini, ditangan mereka jelantah menjadi sabun anti noda yang ramah lingkungan.
“Kami menyebutnya Sabun Mijel (Minyak Jelantah), dan ini adalah Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di tahun 2022 angkatan pertama yang kami kembangkan hingga saat ini,” kata Dewi Sri Wahyuni, Guru Pembimbing SMPN 3 Sampit, Rabu 8 November 2023.

Untuk mendapatkan bahan baku minyak jelantah tidak begitu sulit, karena bisa mendapatkan dari orang tua siswa serta dilingkungan sekitar sekolah.
Cara pembuatan sabun mijel, Dewi Sri Wahyuni menjelaskan pertama-tama disiapkan jelantah sebagai bahan utama, kemudian melalui proses perendaman selama 24 jam menggunakan arang untuk membersihkan sisa-sisa bekas gorengan dan minyak jelantah menjadi netral.
Setelah bersih dengan proses perendaman, kemudian minyak minyak jelantah dicampur dengan menggunakan air alkali yang bahannya dari soda api, diaduk bersama bahan perwarna makanan dan pewangi pakaian.
“Kita menambahkan sedikit pewarna supaya terlihat manis dan diberi pewangi sedikit supaya tidak terlalu tengik, karena bahan dasarnya minyak jelantah itu agak tengik,” jelas Dewi Sri Wahyuni.
Minyak jelantah yang telah tercampur rata dengan air alkali, pewarna serta pewangi dituangkan ke dalam cetakan yang disiapkan dan didiamkan selama 24 jam.
“Setelah padat adonan yang telah berbentuk sabun baru bisa keluarkan dari cetakan, kita keringkan dulu bukan dijemur tapi dibiarkan saja gitu selama 14 hari baru boleh digunakan,” terangnya.
Begitulah proses pembuatan sabun mijen yang dilakukan siswa dan guru pembimbing SMPN 3 Sampit, yang kini telah menghasilkan sebuah kerajinan yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.
“Untuk pemasarannya kita di lingkungan sekolah, kemudian juga sudah sampai keluar, kemarin setelah P5 itu kita ada pesanan dari beberapa sekolah lain serta dari orang tua siswa,” katanya.
Sebagai guru pembimbing Dewi Sri Wahyuni berharap proyek membuat sabun mijen tersebut terus berkelanjutan.

“Keinginan saya program ini tetap terus berlanjut ya, artinya sabun mijel jangan sampai disini saja, ada penerus-penerus generasinya nantinya. Kemudian kalau yang sekarang para apa siswa-siswa yang terlibat dalam pembuatan sabun mijen ini yang memang dari P5 kemarin, nah nantinya harapan saya mereka bisa menularkan ke adik-adiknya yang belum pernah ikut pembuatan pembuatan mijen,” tutupnya. (ilm)











