SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sedang berupaya untuk meredam konflik yang terjadi di Kelurahan Kuala Kuayan, Kecamatan Mentaya Hulu, yang mana sebelumnya ratusan warga diduga melakukan panen massal di areal perkebunan sawit PT Agro Karya Prima Lestari (AKPL).
Bupati Kotim Halikinnor menegaskan perusahaan agar dapat memperhatikan apa yang menjadi tuntutan masyarakat, dan memberikan kesejahteraan kepada mereka.
Pemkab juga memfasilitasi musyawarah mediasi melalui Assisten I Sekretariat Daerah (Setda) Rihel bersama masyarakat Kuala Kuayan dengan perusahaan, di Kantor Kecamatan Mentaya Hulu.
“Tentunya kita ingin masalah ini bisa selesai, sudah ada beberapa kesepakatan dihasilkan dan kita tetap mengimbau masyarakat bisa menjaga kondusifitas daerah,” kata Halikinnor, Senin 11 Desember 2023.
Dirinya tak ingin ada bentrokan antara masyarakat dengan perusahaan dan semua bisa dimusyawarahkan dengan baik baik.
Bupati Kotim bersama Kodim, serta Polres Kotim juga sudah mengeluarkan Surat Edaran Bersama larangan melakukan Pemanenan Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit secara tidak sah.
Melarang pengepul TBS Kelapa Sawit untuk menerima atau membeli TBS Kelapa Sawit dari masyarakat yang tidak dapat membuktikan asal perolehan TBS Kelapa Sawit dan diduga TBS Kelapa Sawit tersebut berasal dari hasil penjarahan atau hasil perbuatan tindak pidana.
Diketahui ratusan warga di Kelurahan Kuala Kuayan, diduga melakukan panen massal di areal perkebunan kelapa sawit milik PT Agro Karya Prima Lestari (AKPL).
Dalam beberapa video yang beredar di media sosial terlihat ratusan masyarakat memaksa masuk areal perkebunan dengan cara mendorong-dorong portal di pos jaga keamanan milik perusahaan.
Aksi itu diamankan oleh sejumlah aparat kepolisian yang berada di lokasi, berdasarkan informasi yang diperoleh bahwa masyarakat menuntut beberapa poin, yaitu warga meminta jalan kanan dan kiri ex Sarpatim dibebaskan, realisasi plasma 20 persen untuk warga Kuala Kuayan, perbaikan dan pemeliharaan jalan ex Sarpatim dari Km 28 sampai dengan Kuala Kuayan, serta realisasi CSR tepat sasaran. (Nardi)











