PANGKALAN BUN – Sejak tanggal 26 Agustus hingga kini, Personel Balai Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) masih berjibaku melakukan pemadaman api di kawasan TNTP, hingga saat ini ada 1 200 Hektar sudah terbakar, dan tim Balai TNTP berusaha keras memadamkan karhutla agar api tidak menyebar luas.
Kepala Balai TNTP Yohan Hendratmoko, menyampaikan kawasan TNTP yang mulai terbakar saat ini berada di desa Sungai Cabang dan Tanjung Pulau, dimana lokasi yang terbakar merupakan areal bergambut dan rawa, sehingga tim terus berupaya agar api tidak menyebar luas.
“Kawasan TNTP yang masuk dalam administrasi wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat yang terbakar saat ini seluas 1.200 hektare, personil kami yang dibantu oleh PT Kumai Sentosa maupun Masyarakat Peduli Api bekerjasama untuk menghalau agar api tidak menyebar lebih luas, karena lokasi yang terbakar berada didalam sehingga kami kesulitan untuk menjangkau, untuk itu kami sangat mengharapkan bantuan helikopter Water Bombing BNPB untuk pemadaman dari atas, karena lokasinya sangat jauh dan sumber air tidak ada, ” katanya, Rabu 9 September 2026.
Yohan menjelaskan jumlah personil Balai TNTP sebanyak 114 orang, dimana petugas yang terbagi bagi ada untuk penanganan hutan dan pelayanan untuk wisata, akan tetapi lebih prioritas saat ini untuk penanggulangan kebakaran hutan.
“Untuk lokasi kunjungan wisatawan seperti di Pondok Tanggui yang merupakan pusat rehabilitasi orangutan yang terletak di dalam kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, dan Camp Leakey kawasan pusat rehabilitasi dan riset orang utan legendaris, kedua tempat tersebut masih aman, dan wisatawan masih banyak berkunjung karena sebagai besar wisatawan mancanegara sudah jauh hari sudah melakukan pemesanan untuk kunjungan ke TNTP, ” Ujar Yohan Hendratmoko.

Sementara itu, Bupati Kobar, Hj Nurhidayah, menyampaikan bahwa tim Satgas Karhutla Kobar akan melakukan penanganan karhutla di dua tempat yang menjadi kawasan rehabilitasi orangutan, yakni kawasan hutan danau Masorain dan kawasan TNTP, keduanya sangat penting untuk dilakukan penanganan secepatnya, sembari menunggu bantuan helikopter Water Bombing BNPB tiba.
“Kedua kawasan tersebut selain untuk rehabilitasi orangutan juga sebagai tempat untuk pengembangan riset, orangutan dan manusia keduanya sama sama penting untuk diselamatkan dari karhutla ini, keterbatasan sarana prasarana bukan berarti tim tidak bisa berbuat, dengan gotong royong seluruh komponen yang terlibat maka kesulitan dan kendala di lapangan akan dapat teratasi, sembari kita menanti turunnya Rahmat dari Allah SWT dengan secepatnya menurunkan hujan, ” ujar Bupati Kobar. (man)











