Sawah di Seruyan Disulap Jadi Lahan Semangka dan Mentimun

AHMAD/BERITASAMPIT - Bupati Seruyan, Ahmad Selanorwanda saat melakukan peninjauan pemanfaatan lahan sawah untuk semangka dan mentimun, Rabu 16 September 2026.

KUALA PEMBUANG – Musim kemarau tak selalu identik dengan lahan pertanian yang menganggur. Di Kabupaten Seruyan, lahan sawah yang biasanya digunakan untuk menanam padi justru mampu menghasilkan komoditas hortikultura bernilai ekonomi, salah satunya semangka.

Hal itu terlihat saat Bupati Seruyan, Ahmad Selanorwanda, melakukan peninjauan pemanfaatan lahan sawah untuk semangka dan mentimun di lahan milik H. Rukamta yang berada di Jalan Berdikari, Kecamatan Seruyan Hilir. Lahan tersebut merupakan area persawahan yang dimanfaatkan untuk budidaya semangka selama masa jeda sebelum kembali memasuki musim tanam padi.

Bupati Seruyan menilai pemanfaatan lahan tersebut menjadi contoh bahwa petani dapat tetap produktif di tengah musim kemarau. Menurutnya, hasil tanaman semangka di lahan tersebut cukup menggembirakan dan berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.

“Ini sebenarnya lahan sawah. Tetapi karena musim kemarau, ternyata masih bisa dimanfaatkan menjadi lebih produktif. Hasil semangkanya juga sangat menggembirakan,” ujar Ahmad Selanorwanda, Rabu 16 September 2026.

Ia menyebut, dengan potensi produksi minimal sekitar dua ton per hektare, budidaya semangka dapat menjadi salah satu alternatif usaha bagi petani. Pemerintah daerah, kata dia, perlu melihat potensi tersebut untuk kemudian dikembangkan melalui program pembinaan, pendampingan maupun pengembangan komoditas yang sesuai dengan kondisi lahan.

Menurutnya, pola tersebut tidak harus berhenti pada komoditas semangka. Berbagai tanaman lain yang cocok dikembangkan pada musim kemarau juga dapat menjadi pilihan, sehingga lahan pertanian tetap produktif sebelum kembali digunakan untuk menanam padi saat musim hujan.

“Kalau banyak petani memanfaatkan lahan di masa kemarau, kita tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan Kuala Pembuang. Kalau produksinya sudah besar, bukan tidak mungkin kita bisa memasok ke daerah lain,” katanya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani sekaligus pemilik lahan, H. Rukamta, mengatakan pemanfaatan lahan di antara musim tanam padi merupakan bagian dari upayanya mendorong pertanian yang lebih modern. Ia menilai petani tidak seharusnya hanya bergantung pada satu komoditas.

“Petani itu tidak hanya bergantung pada satu komoditas. Di sela musim tanam seperti sekarang, hasilnya justru bisa lebih besar,” ungkapnya.

Rukamta menyebut, semangka dapat dipanen sekitar 60 hari. Dengan asumsi produksi dua ton per hektare, nilai hasilnya dapat mencapai sekitar Rp20 juta, sementara biaya produksi yang dikeluarkan relatif rendah karena sebagian sarana pertanian telah dimilikinya sendiri.

Selain semangka, ia juga mendorong pengembangan tanaman mentimun. Menurutnya, mentimun memiliki masa panen lebih singkat, bahkan dapat mulai dipanen sekitar 28 hari, dengan biaya produksi yang lebih rendah. Potensi tersebut dinilai dapat membantu Seruyan mengurangi ketergantungan pasokan sayuran dari daerah lain.

“Seruyan ini sebenarnya penyangga Kota Sampit. Jangan sampai sayuran justru datang dari Sampit ke Seruyan. Kalau petani kita bergerak dan pemerintah daerah memberikan solusi ketika panen, saya yakin bisa,” ujarnya.

Rukamta juga meminta perhatian pemerintah terhadap aspek keamanan lahan pertanian serta peningkatan pendampingan dari tenaga penyuluh. Menurutnya, kunjungan dan komunikasi yang lebih aktif antara penyuluh dengan petani diperlukan agar berbagai persoalan di lapangan dapat segera diketahui dan dicarikan solusi.

(ASY)

baca juga ...  Kunjungan Kapolda Kalteng di Seruyan, Bupati Sambut Hangat dan Ikut Hadiri Peresmian Fasilitas Hingga Kegiatan Sosial
Bagikan:
Berita Populer