SAMPIT – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tidak hanya mengancam kesehatan fisik masyarakat. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan tekanan psikologis, mulai dari kecemasan terhadap kesehatan hingga ketidakpastian kapan bencana akan berakhir.
Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Sampit, Dr. Riza Amalia, S.Psi., M.Si., mengatakan, kebakaran dan kabut asap dapat menjadi sumber stres atau stressor bagi masyarakat yang terdampak.
Menurutnya, ada sejumlah faktor yang membuat kabut asap berpotensi memengaruhi kondisi psikologis masyarakat, khususnya warga Kota Sampit dan sekitarnya.
“Jelas, karena kejadian kebakaran menjadi sumber stressor,” ujarnya.
Riza menjelaskan, kabut asap menjadi ancaman nyata bagi kesehatan fisik masyarakat. Udara yang tercemar asap dapat menimbulkan sensasi sesak dan ketidaknyamanan, sementara kandungan zat berbahaya di dalamnya juga berpotensi mengganggu kesehatan tubuh.
Situasi tersebut dapat memunculkan kekhawatiran, terutama ketika masyarakat harus menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kualitas udara yang buruk.
Selain ancaman terhadap kesehatan fisik, kabut asap juga dapat menjadi beban pikiran tersendiri. Ketidakpastian mengenai kapan kondisi akan kembali normal membuat masyarakat berpotensi mengalami kecemasan berkepanjangan.
Pengalaman menghadapi kabut asap pada tahun-tahun sebelumnya juga dapat memengaruhi respons psikologis masyarakat saat bencana serupa kembali terjadi.
Masyarakat mungkin berharap kabut asap segera berakhir. Namun, ketika kondisi tersebut terus berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, ketidakpastian itu dapat memperbesar keresahan.
“Ketika kita menghirup udara yang tercemar, yang terganggu bukan hanya sistem pernapasan, tetapi juga rasa aman dan kenyamanan kita. Sensasi sesak, kekhawatiran akan kesehatan, dan ketidakpastian kapan kabut berakhir dapat memperkuat respons stres,” jelasnya.
Atur Aktivitas dan Batasi Paparan Berita
Lantas, apa yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi potensi stres selama musim kabut asap?
Riza menilai, menghindari paparan kabut asap sepenuhnya bukan perkara mudah bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak. Salah satu cara untuk benar-benar menjauhi paparan adalah berpindah sementara ke daerah yang tidak terdampak, apabila memungkinkan.
Namun, bagi masyarakat yang tetap harus tinggal dan beraktivitas di Sampit, terdapat sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk membantu mengelola tekanan psikologis.
Pertama, menyesuaikan aktivitas harian dengan kondisi yang sedang dihadapi. Masyarakat dapat memberikan kelonggaran pada rutinitas apabila memungkinkan, terutama ketika kondisi lingkungan tidak mendukung aktivitas seperti biasanya.
Penyesuaian tersebut penting agar masyarakat tidak memaksakan diri menjalani seluruh kegiatan dengan pola yang sama seperti ketika kondisi udara masih normal.
Kedua, mengelola kecemasan dengan mengurangi paparan berita secara berulang. Memperoleh informasi mengenai perkembangan karhutla memang penting, tetapi terus-menerus mengikuti kabar yang sama, terutama yang memicu ketakutan, dapat menambah beban pikiran.
Masyarakat disarankan tetap mengikuti informasi dari sumber tepercaya dengan frekuensi yang wajar, sekaligus menyediakan waktu untuk beristirahat dan melakukan relaksasi.
“Kelola kecemasan secara berlebihan dengan mengurangi paparan berita berulang, lakukan relaksasi dan memanjatkan doa supaya keadaan bisa lebih baik ke depannya,” ungkapnya.
Ketiga, menyediakan ruang untuk bercerita mengenai kegelisahan yang dirasakan. Masyarakat tidak perlu memendam kekhawatiran seorang diri, terutama ketika terus memikirkan kapan kabut asap akan berakhir.
Berbagi cerita dengan keluarga, teman, atau orang yang dipercaya dapat menjadi salah satu cara untuk mengungkapkan perasaan dan memperoleh dukungan emosional.
Menurut Riza, mengakui bahwa situasi yang sedang dihadapi memang menimbulkan tekanan merupakan bagian penting dalam upaya mengelola stres. Masyarakat juga perlu memahami bahwa setiap orang dapat memiliki respons yang berbeda terhadap situasi bencana.
Kesehatan Mental Perlu Diperhatikan
Kabut asap yang berlangsung dalam waktu lama dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Selain gangguan kesehatan, kondisi tersebut berpotensi mengubah rutinitas, membatasi aktivitas di luar rumah, serta menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan diri dan keluarga.
Karena itu, upaya menghadapi karhutla tidak hanya berkaitan dengan penanganan kebakaran dan perlindungan kesehatan fisik, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi psikologis masyarakat.
Riza yang merupakan dosen Program Studi BK Universitas Muhammadiyah Sampit, peneliti, sekaligus konselor tersebut mengingatkan pentingnya mengelola kecemasan dan menjaga kenyamanan psikologis selama menghadapi situasi yang tidak menentu.
Masyarakat diharapkan dapat menyesuaikan aktivitas, membatasi informasi yang memicu kecemasan, serta tetap menjaga komunikasi dengan orang-orang terdekat.
Apabila tekanan psikologis dirasakan semakin berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, masyarakat dapat mempertimbangkan untuk mencari bantuan dari tenaga profesional.
“Dengan demikian, di tengah perjuangan menghadapi karhutla dan kabut asap, menjaga kesehatan mental menjadi bagian penting agar masyarakat tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik,” demikiannya.
(Jimmy)











